Bayang-Bayang di Balik Rindu
Chapter 2: Mimpi yang Terkurung
Malam itu, langit Skylight City dipenuhi gemerlap lampu neon yang tak pernah padam. Arka duduk di tepi jendela apartemen sempitnya, menatap keluar tanpa fokus. Suara klakson mobil dan deru mesin dari jalanan di bawahnya terdengar samar, seolah-olah dunia luar sedang berusaha mengingatkannya bahwa hidup terus berjalan. Tapi Arka merasa terkurung, terjebak dalam lingkaran rutinitas yang tak membawanya kemana-mana.
Dia menarik napas panjang, matanya tertuju pada tumpukan buku dan catatan yang berserakan di meja kerjanya. Mimpi-mimpi besar yang pernah dia rajut dengan penuh semangat kini terasa seperti ilusi yang semakin menjauh. "Apa yang salah?" gumamnya pelan, suaranya hampir tak terdengar di tengah kesunyian ruangan. Dia ingat betul bagaimana dulu dia bersemangat merantau ke kota ini, yakin bahwa Skylight City akan menjadi panggung untuk mewujudkan semua impiannya. Tapi sekarang, dia hanya merasa lelah.
Arka memandang foto kecil di dinding, gambar dirinya bersama keluarga di rumah masa kecilnya. Senyum mereka terlihat begitu tulus, begitu bebas dari beban yang sekarang dia rasakan. "Apakah ini yang kuinginkan?" tanyanya dalam hati. Dia tahu jawabannya, tapi mengakuinya terasa terlalu menyakitkan. Ambisinya yang dulu membara kini seperti api kecil yang hampir padam, ditinggalkan oleh waktu dan tuntutan hidup yang tak kenal ampun.
Dia menutup mata, mencoba menenangkan pikiran yang bergejolak. Tapi bayangan kegagalan dan ketidakpastian terus menghantuinya. Arka tahu, dia harus membuat keputusan. Tapi untuk sekarang, dia hanya ingin beristirahat, meski hanya sejenak, dari segala tekanan yang mengimpitnya.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.