Boss Perkasa
Chapter 3: Pertemuan Bisnis dan Percakapan Personal
Mobil Mercedes-Benz S-Class meluncur mulus menuju Hilton, interiornya yang dilapisi kulit Nappa berwarna krem memancarkan aroma wewangian khusus Mercedes. Irene duduk dengan sempurna di kursi belakang kiri, matanya sesekali mengecek dokumen di iPad Pro 12.9 inci yang dilapisi case kulit Hermès.
Kevin: "Pastikan grafik ROI di slide 23 diperjelas. Investor Jepang selalu detail dengan angka-angka." Jarinya mengetuk-ngetuk armrest yang terbuat dari kayu walnut.
Hotel Hilton tampak megah dengan pilar-pilar marmer Carrara yang menjulang. Mereka disambut oleh resepsionis berbaju setelan Giorgio Armani yang langsung memandu ke lounge executive. Aroma kopi Blue Mountain Jamaica yang baru diseduh memenuhi ruangan ber-AC 22 derajat itu.
Klien dari Jepang tiba tepat waktu - Mr. Yamamoto dengan setelan Kiton berwarna navy blue, diiringi dua stafnya. "Konbanwa, Kevin-san," sambutnya sambil membungkuk 45 derajat, matahari pagi menyorot dari jam tangan Grand Seiko Spring Drive miliknya.
Presentasi dimulai dengan lancar. Kevin menjelaskan konsep restoran French-Japanese fusion di Malang dengan view gunung dan pemandangan perkebunan apel. "Location kita strategis, hanya 15 menit dari airport," ujarnya sambil menunjukkan layout interior yang didesign oleh firma arsitektur ternama.
Irene mengambil alih dengan presentasi detail finansial yang flawless. "Dengan modal awal 2.5 juta USD, kita proyeksikan BEP dalam 18 bulan," suaranya mantap, pointer laser Montblanc-nya bergerak lincah di layar 4K.
3 jam kemudian, meeting berakhir dengan jabat tangan erat. "Kami akan pertimbangkan dengan serius," janji Mr. Yamamoto sambil menyimpan dokumen ke tas briefcase Louis Vuitton Taïga.
Di restoran Michelin-starred di lantai 23, Kevin memesan Wagyu A5 dan Château Margaux 2015. "Kamu menangani presentasi tadi dengan baik. Harvard memang tidak pernah mengecewakan," pujinya sambil memutar gelas anggur yang berkilau terkena cahaya matahari sore.
Percakapan mengalir dari pembahasan bisnis ke kehidupan pribadi Irene. "Saya mengambil double degree Business dan Bahasa di Harvard," jelasnya sambil menata sendok peraknya yang terbuat dari sterling silver. "Magang di McKinsey memberi saya banyak insight tentang..."
Kevin menyimak sambil mengamati gestur perempuan di hadapannya. Cara Irene memegang gelas, etika makannya yang sempurna, hingga cara dia menjawab pertanyaan dengan balanced antara profesional dan personal.
Matahari mulai tenggelam ketika mereka akhirnya meninggalkan restoran. Bayangan kedua sosok itu memanjang di lantai marmer, meninggalkan jejak percakapan berarti yang baru saja terjadi.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.