Boss Perkasa

Chapter 5: Kehangatan dalam Diam

AC kamar suite Hotel Mercure menyemburkan udara dingin seperti lemari es. Angka 16°C berkedip merah di panel kontrol, tapi tampaknya sistem pendingin rusak karena suhu terus menurun. Irene yang hanya mengenakan satin pajamas set warna champagne dari La Perla menggigil di tepian single bed-nya, jari-jarinya yang ramping pucat mencengkeram tepi selimut sutra Frette.

Kevin: "Irene, masuklah ke selimut. Kita tidak bisa kerja kalau kau kedinginan." Suaranya berat karena kelelahan, sementara tangan kanannya menunjuk ke tempat kosong di sebelahnya. Kerah kemeja Armani-nya sudah longgar, memperlihatkan leher yang tegang.

Irene menelan ludah. Dadanya berdegup kencang memompa adrenalin. 23 tahun hidupnya belum pernah sekalipun ia berbagi ranjang dengan laki-laki. "Saya... tidak apa-apa, Pak," jawabnya sambil menarik napas pendek, ujung jarinya menggigit-gigit corner of iPad Pro yang masih terbuka laporan keuangan.

Thermostat kamar berbunyi 'klik' sekali lagi, mengirimkan embusan angin arktik baru. Tubuh Irene bergetar tak terkontrol, gigi-giginya gemeretak seperti maracas. Jam Rolex Daytona Kevin menunjukkan pukul 1:47 dini hari.

"Aku tidak akan melakukan apa-apa," bisik Kevin tiba-tiba dalam bahasa Indonesia, kata ganti pertama yang membuat jantung Irene berhenti sejenak. "Kita masih harus meeting jam 6:30 pagi."

Dengan gemetar, Irene akhirnya meluncur ke bawah selimut. Kaki-kakinya yang panjang langsung menabrak kaki Kevin yang hangat. "Maaf!" serunya sambil menarik kaki kembali, pipinya membara seperti terkena sunburn.

Tiba-tiba tangan kanan Kevin meraih tangan Irene yang dingin. "Tanganmu seperti es," gumamnya sambil menarik perlahan tangan itu ke dadanya yang hangat. Aroma Creed Aventus yang melekat di kulit Kevin bercampur dengan essential oil dari kamar mandi.

Irene memicingkan mata, seluruh tubuhnya kaku seperti patung. Tapi kehangatan yang merambat dari telapak tangan Kevin membuatnya perlahan meleleh. Kulit Kevin terasa kasar di bagian callused dari gym rutin, tapi hangatnya seperti radiator hidup.

"Tidurlah," bisik Kevin, nafasnya mengusik rambut Irene yang wangi seperti melati. Tangan kirinya sekarang membelai lembut lengan atas Irene, mencoba menghangatkan. "Kau kerja terlalu keras hari ini."

Irene mengangguk pelan, wajahnya terkubur dalam bayangan. Detak jantung Kevin yang stabil di telinganya perlahan membuat matanya berat. Dalam kebingungan antara malu dan rasa aman yang aneh, akhirnya ia tertidur dengan kepala di bahu Kevin, tangan mereka masih terkunci erat di antara dada mereka yang berdetak tidak beraturan.

Sponsor
Banner sponsor muncul setelah chapter selesai dibaca agar ritme membaca tetap utuh.

Rekomendasi Novel

Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.

deleted

delete

Baca

Penantang Takdir

Saat gerbang antar dimensi terbuka di bumi, selurung dimensi terhubung. Sistem antar bintang yang memiliki konsel level...

Baca

Ketika Bertahan Tak Lagi Bernama Cinta

Raka dan Alena adalah pasangan lama yang bertahan bukan karena bahagia, melainkan karena takut kehilangan. Di balik hubu...

Baca

CEO yang belajar Melihat Dari Gadis Buta

seorang CEO muda yang sukses namun dingin Dan tertutup akibat penghianatan di masa lalunya. hidupnya berubah ketika bert...

Baca

le

harus bisa

Baca

Saat Bosan Mengajarkan Penghianatan

Alya dan Raka adalah pasangan SMA yang terlihat sempurna, namun kebosanan perlahan menggerogoti hubungan mereka. Saat pe...

Baca
Her Eyes on Me

Her Eyes on Me

pertemuan ttidak sengaja seorang laki-laki denganku di sebuah hotel untuk kegiatan kementerian. Laki-laki itu menaruh ra...

Baca

Ketika Janji Menjadi sebuah Rahasia

Pernikahan yang terlihat utuh perlahan retak saat kesepian membuka pintu bagi masa lalu. Di antara janji yang diucapkan...

Baca

Si Bodoh yang Jenius

Jojo, cowok pintar yang sombong, awalnya menertawakan Maria, siswi baru cantik keturunan Chinese yang bodoh dalam pelaja...

Baca