Hatiku untuk Selamanya
Chapter 3: Bab 3: Hati yang Diberikan
Ruangan ICU RS Harapan sunyi, hanya terdengar suara mesin yang memenuhi udara dengan ritme monoton. Diana duduk di kursi plastik keras dengan wajah pucat, matanya menatap kosong ke arah tempat tidur tempat ayahnya terbaring. Nafasnya sudah begitu lemah, seperti nyala lilin yang hampir padam. Tangannya menggenggam erat tangan ayahnya yang dingin, seolah berusaha menahan satu-satunya orang yang selalu ada untuknya pergi selamanya.
Dokter yang berjaga di ruangan itu sesekali melirik Diana dengan pandangan penuh simpati. Namun, ada sesuatu yang tidak biasa dalam cara mereka berbisik satu sama lain, dalam cara mereka bergerak dengan cepat namun hati-hati. Diana terlalu terpaku pada sang ayah sehingga tidak menyadari ketegangan yang melingkupi ruangan tersebut.
Saat detak jantung ayahnya semakin melambat, lampu merah di monitor mulai berkedip lebih cepat. Suara bip yang keras tiba-tiba mengisi ruangan, menandakan akhir dari segalanya. Diana menangis tersedu-sedu, kepalanya tertunduk ke pangkuan ayahnya. Tetapi, dalam kekacauan itu, dia tidak melihat tim medis cepat mengambil tindakan, mempersiapkan sesuatu yang tampak mendesak.
Sebelum Diana sempat menyadari, mereka telah membawa ayahnya ke ruang operasi tanpa penjelasan lebih lanjut. Diana tidak tahu apa yang sedang terjadi, tetapi dia terlalu lelah untuk bertanya. Beberapa jam kemudian, seorang dokter mendekatinya dengan wajah serius. 'Kami telah melakukan semua yang kami bisa untuk ayah Anda,' ujar dokter itu dengan suara berat. 'Dan, dalam kepergiannya, dia telah memberikan hadiah terakhir: hatinya. Tanpa sepengetahuan Anda, dia telah mendaftar sebagai pendonor organ.'
Diana terkejut, tubuhnya gemetar. Ayahnya, bahkan dalam kematian, masih memikirkan orang lain. Dia tidak tahu harus merasa bangga atau marah karena tidak diberitahu. Air matanya mengalir deras, mencampur perasaan cinta dan sakit yang tak terkatakan. Dia tahu, hati ayahnya akan terus berdetak di dalam dada orang lain, membawa bagian dari dirinya ke dunia yang lebih luas. Meski begitu, kehilangan itu tetap terasa menyiksa.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.