Her Eyes on Me
Chapter 3: Percikan Rivalitas
Udara kafe hotel terasa lebih hangat setelah dua jam terkurung di ruang seminar. Tanganku masih gemetar memegang cangkir latte saat Pak Arif menyapa dengan gaya khasnya—siku bersandar di meja kayu, dasi sedikit miring. ‘Kerjamu bagus di sesi tadi,’ pujinya sambil menyeruput kopi hitam. Aku hanya mengangguk sopan, mencoba menyembunyikan kegelisahan yang masih tersisa dari insiden di ballroom.
Tiba-tiba, bajunya bergeser menyingkap jam tangan mewah. ‘Oh iya, ada peserta dari SMA-5 yang bertanya tentangmu.’ Napasku tersangkut di tenggorokan. Pak Arif melanjutkan dengan suara datar, ‘Dia berambut ikal, memakai jaket denim—terlihat cukup serius ingin berkolaborasi.’ Jantungku berdetak kencang seperti drum band. Latte yang baru kuminum terasa pahit mendadak.
Dari balik bahu Pak Arif, bayangan jaket denim itu melintas di depan pintu kaca. Tubuhku refleks membungkuk seolah tertarik pada biji coklat di atas meja. ‘Katanya tertarik dengan analisamu tentang pendidikan karakter,’ tambah Pak Arif sembari melirik ke arah pintu. Kerongkonganku kering saat melihat pria itu berhenti di depan etalase pastry, matanya menatap tajam melalui pantulan kaca.
‘Kau kenal dia?’ tanya Pak Arif tiba-tiba, membuatku tersedak sedikit. Aku menggeleng cepat, tapi pipi terasa panas. Pria denim itu kini membelakangi kami, sikunya bersandar di meja resepsionis. Kulihat cara dia memainkan pena di atas buku tamu—gerakan jari-jemari yang lentik namun tegas. Teringat sentuhannya di lobi, kulit lengan bawahku bergidik.
‘Dia mendatangiku saat istirahat pertama,’ Pak Arif melanjutkan dengan nada yang kini mengandung tanya. ‘Bertanya panjang lebar tentang latar belakangmu, prestasi—bahkan gaya presentasi.’ Daun telingaku terasa terbakar. Pria itu kini berbalik, pandangannya langsung menembus kerumunan menyasar ke meja kami. Bibirnya menyungging senyum pendek sebelum beralih ke smartphone di tangannya.
‘Awas,’ bisik Pak Arif tiba-tiba, mendekatkan wajahnya. ‘Cowok-cowok seperti itu biasanya punya agenda tersembunyi.’ Napasnya yang mengandung aroma kopi pekat membuatku sedikit mundur. Tapi dari sudut mata, kulihat pria denim itu mengangkat dagu ke arah kami—tantangan diam-diam yang hanya kupahami maknanya. Telapak tanganku berkeringat merekat pada cangkir keramik.
Saat Pak Arif beranjak ke toilet, ruangan terasa sesak tiba-tiba. Pria denim itu sudah berdiri di dekat rak majalah, pura-pura membaca tabel jadwal. Dengan setiap langkahnya yang mendekat, nadi di leherku berdenyut lebih kencang. Bau kayu oaknya sudah bisa kucium dari sini—aroma itu seperti trigger yang langsung mengembalikan memori tangannya di punggungku di lobi.
Dia berhenti tepat di sebelah mejaku, mengambil brosur seminar dari wadah plastik. ‘Partner kerjamu terlihat protektif,’ gumamnya tanpa melihat ke arahku. Aku memainkan sendok kecil di piring saucer, berusaha tenang. ‘Dia mentor sekaligus pengawas.’
‘Kalau kau dewasa, pasti memilih partner yang lebih… setara.’ Bisikannya rendah tapi jelas, diikuti tawa napas pendek yang membuat bulu kudukku merinding. Saat kuangkat wajah, matanya sudah menatap tajam—hitam, dalam, seperti kolam malam yang siap menenggelamkan. Dadaku berdebar tak karuan.
‘Tyler,’ ujarnya tiba-tiba sambil mengulurkan tangan. Di pergelangannya terikat tali kulit usang dengan liontin logam kecil. Sekilas kupikir namanya akan seaneh sikapnya. ‘Tyler dari SMA-5.‘
‘Aku tahu,’ jawabku tanpa berpikir. Senyumnya semakin lebar, menampilkan lesung kecil di pipi kanan. Aku hiperaware terhadap kehangatan telapak tangannya ketika akhirnya bersentuhan denganku—sedetik lebih lama dari seharusnya. 'Semua orang tahu kau dari SMA-8,' bisiknya sebelum menarik tangan perlahan. ‘Tapi hanya aku yang tahu bagaimana tanganmu gemetar tadi di podium.’
Lampu di atas kami berkedip sesaat ketika Pak Arif kembali, wajahnya berkerut melihat posisi Tyler yang terlalu dekat. ‘Kita lanjutkan diskusi tentang proposal?’ gertaknya sengit, menarik kursinya hingga berdecit keras. Tyler hanya membalas dengan anggukan santai sebelum berlalu. Tapi sebelum pergi, jarinya menyentuh tulang pergelangan tanganku secepat kilat—sentuhan diam-diam yang terbakar hingga dua jam berikutnya.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.