Ketika Janji Menjadi sebuah Rahasia
Chapter 5 : Dialog di Balik Layar
Mobil Rolls-Royce Phantom warna perak itu mengerem halus di depan lobby Hotel Mandarin Oriental, plat B 140 RR berkilau dalam sorot lampu pagi. Nara menarik napas dalam sambil membenangkan gaun linen beige-nya yang bergesekan dengan sarung tangan kulit—sebuah pertahanan simbolis antara dirinya dan dunia luar. Dari balik kaca film gelap, Raka melambai dengan gerakan yang terlalu akrab untuk sekedar pertemuan bisnis.
'Properti Megah Indah sedang membangun klaster rumah mewah di Menteng,' ujar Raka sambil menyodorkan tablet berisi desain arsitektur, jarinya tanpa sengaja menyentuh ujung kelingking Nara. 'Aku ingin kau jadi konsultan desain interior. Bayarannya setara dengan tarif luar negeri.' Diagram 3D di layar memperlihatkan denah bangunan anehnya familiar—tata letak identik dengan maket rumah melati yang pernah mereka buat bersama di bangku kuliah dulu.
Kafe di Plaza Indonesia menjadi saksi bisu setiap kali pertemuan 'bisnis' mereka. Di meja sudut dengan tanaman fiddle leaf fig, Nara memainkan sendok teh di atas saucer. 'Kenapa?' tanyanya tiba-tiba saat Raka membuka folder berisi foto-foto Arkana bersama wanita berkulit putih di sebuah vila Bali. 'Karena aku masih mencintaimu,' jawab Raka datar sambil menggeser amplop coklat berisi dokumen pengalihan saham Properti Megah Indah atas nama R.R. ke perusahaan shell di Kepulauan Cayman.
Pukul 23:48, getar ponsel mengganggu sunyinya suite hotel. Layar menyala dengan panggilan video dari Raka. Nara menerima dengan jari gemetar. 'Lihat bulan di belakangmu,' bisik Raka dari balik kamar hotelnya yang juga menghadap ke monumen nasional. Dua puluh tujuh lantai memisahkan mereka, tapi cahaya bulan yang sama menyinari wajah mereka melalui kaca jendela. 'Aku sedang mengurus tender proyek pemerintah,' ucap Raka tiba-tiba, 'Ada dokumen dari periode kerjasamaku dengan Arkana yang mungkin berguna untuk... kebebasanmu.' Di latar belakang, dokumen bertuliskan 'Kerjasama Investasi PT. Samudera Emas' tergeletak bersama segelas whiskey es.
Pesan teks mereka mulai dipenuhi kode-kode rahasia. 'Pembelian marmer Carrara' berarti pertemuan di butik Hermès. 'Survey lokasi konstruksi' adalah kode untuk makan malam di restoran tertutup. Nara menyimpan semua percakapan dalam folder tersembunyi berlabel 'Arsitektur_Proyek'. Suatu siang, aplikasi pesan mendadak menunjukkan notifikasi: "R.R. telah menghapus pesan". Nara mengetik cepat: 'Apa yang kau hapus?' Balasan datang setelah tiga menit menegangkan: 'Foto kenangan kita di pantai Parepare. Aku tidak ingin membuatmu tidak nyaman.' Di balik kata-kata sopan itu, terbaca kerinduan yang sengaja dibiarkan menggantung.
Minggu ketiga kolaborasi mereka diwarnai insiden tak terduga. Nara menemukan bug di laptop desainnya—sebuah spyware yang merekam setiap ketikan keyboard. Ketika ia konfrontasi Raka di ruang rapat Properti Megah Indah, pria itu mengeluarkan USB berlogo perusahaan Arkana dari laci meja. 'Dia masih memantaumu,' desis Raka sambil mengunci pintu. Jarak satu meter antara mereka tiba-tiba terasa tipis. Aroma parfum Santal 33 milik Raka bercampur dengan keringat dingin Nara yang menyadari: pertempuran ini jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan.
Dalam perjalanan pulang, mobil Raka berhenti di depan galeri seni tempat pameran dua minggu lalu. 'Lihat itu,' tunjuknya ke aurat instalasi lampu berjudul 'Lereng Ketidakpastian'. 'Karya itu terinspirasi dari surat-suratmu waktu kuliah.' Nara tersentak—kalimat dalam deskripsi karya memang persis seperti puisi yang pernah ia tulis untuk Raka di buku catatan birunya. Getar ponselnya berbunyi. Notifikasi dari aplikasi perbankan menunjukkan transfer masuk 500 juta rupiah dengan keterangan: 'Uang muka jasa konsultasi'. Tapi nominalnya terlalu besar untuk sekedar uang muka.
Malam terakhir sebelum Nara harus meninggalkan hotel mewah itu, kamar 1702 mendadak dipenuhi buket peony merah muda. Kartu kecil bertuliskan: 'Setiap arsitek butuh partner memahami visinya.' Di balik kelopak bunga, terselip kunci apartemen di Senopati Garden dengan alamat tepat di seberang kantor Properti Megah Indah. Nara menatap benda logam dingin itu sambil merasakan detak jantungnya berpacu antara penyesalan dan antisipasi. Di balkon, ponselnya berdering. Suara Raka parau terdengar: 'Arkana baru saja memindahkan semua aset liquid ke rekening luar negeri. Tapi tenang, aku sudah menyiapkan segalanya.' Dentuman ombak dari laut maluku bergemuruh melalui telepon—pertanda Raka sedang tidak di Jakarta.
Saat fajar menyingsing, Nara berdiri di depan cermin tubuh suite. Gaun hitam melekat sempurna di tubuhnya, garis lehernya yang rendah dihiasi kalung mutiara pemberian Arkana. Dengan gerakan tegas, ia membuka kancing kalung itu dan menjatuhkannya ke lantai marmer. Butiran mutiara berhamburan seperti air mata yang akhirnya tumpah. Di layar ponselnya yang berpendar, terpampang pesan terakhir untuk Raka: 'Aku terima tawaran apartemennya. Dan mungkin lebih dari itu.'
Her Eyes on Me
pertemuan ttidak sengaja seorang laki-laki denganku di sebuah hotel untuk kegiatan kementerian. Laki-laki itu menaruh rasa denganku. Dia meminta bantuan salah satu partnerku bapak-bapak yang berusia jauh lebih tua dariku. Laki-laki itu menghabiskan sisa waktu kegiatan di hotel dengan curhat kepada bapak itu untuk mendekatiku. Sesekali meminta bantuannya untuk memberikan gantungan kunci dan beberapa kue. Dia tidak berhenti meskipun sudah beberapa kali aku menjauh. Sampai akhirnya terungkap bahwa laki-laki itu melihatku sama dengan kekasihnya yang sudah lebih dulu meninggal. Kekasihnya meninggal karena sakit. Dia membersamai kekasihnya sampai detik akhir hayatnya. Bayangan kekasihnya muncul ketika melihatku. Tapi aku menolaknya. Aku takut dia hanya hidup dalam bayang-bayang kekasihnya.
read more
Ketika Janji Menjadi sebuah Rahasia
Pernikahan yang terlihat utuh perlahan retak saat kesepian membuka pintu bagi masa lalu. Di antara janji yang diucapkan dan rahasia yang disimpan, Nara terjebak dalam perselingkuhan yang mengubah hidup tiga orang sekaligus. Saat kebohongan terasa lebih mudah daripada kejujuran, satu keputusan akan menentukan: apakah cinta masih layak diperjuangkan, atau justru harus dilepaskan selamanya?
read more
Si Bodoh yang Jenius
Jojo, cowok pintar yang sombong, awalnya menertawakan Maria, siswi baru cantik keturunan Chinese yang bodoh dalam pelajaran. Namun setelah dipasangkan untuk belajar bersama, Jojo perlahan kagum dengan kerja keras Maria. Maria yang dulunya selalu gagal, kini semakin berkembang berkat bimbingan Jojo. Senyuman dan semangat Maria membuat hati Jojo goyah. Semakin lama, Maria tidak hanya belajar dengan baik, tapi juga menanjak pesat hingga membuat Jojo terancam. Dari hubungan guru–murid kecil-kecilan, hubungan mereka berkembang menjadi persahabatan hangat yang penuh ketegangan batin karena persaingan.
read more
Lolongan Terakhir di Hutan Kelam
Di sebuah desa terpencil dekat hutan, serangkaian kematian brutal terjadi. Hewan ternak dan manusia ditemukan tewas dengan tubuh tercabik. Arman, seorang pemuda desa, mulai menemukan bahwa keluarganya terikat kutukan manusia serigala. Saat ayahnya berubah menjadi monster, rahasia kelam keluarga terkuak. Arman harus melawan bukan hanya ayahnya, tapi juga roh serigala purba yang berusaha mengambil alih tubuhnya. Dengan pisau bulan, ia berusaha menghentikan kutukan, namun setiap langkah justru menyeretnya semakin dalam ke dalam kegelapan.
read more
Sehabis Mencintai, Aku Belajar Melepaskan
Kisah Rania bermula dari cinta yang begitu dalam, namun meninggalkan luka yang menghancurkan. Ia berusaha bangkit di tengah kebingungan, dihadapkan pada pilihan antara Adi—cinta lama yang kembali meminta kesempatan—dan Damar, sahabat yang tulus namun diam-diam mencintainya. Di perjalanan, Rania menemukan bahwa hidup bukan hanya tentang bertahan pada kenangan, tapi juga berani membuka pintu baru. Apakah Rania akan memilih cinta yang pernah menyakitinya, atau cinta baru yang penuh ketenangan?
read more
Primadona Mengejar Pecundang
Dita, primadona dan peringkat pertama SMA Permata Kasih, awalnya menganggap Zeno sebagai siswa bodoh tak berguna. Namun saat melihat keteguhan dan potensi tersembunyi Zeno, ia justru berbalik jatuh hati dan bertekad membimbingnya. Tak disangka, Zeno bukan hanya menyusulnya, tapi mengalahkannya—baik dalam pelajaran, maupun dalam permainan perasaan......
read more
Bukan Untuk Kita Bertiga
Rani, Dira, dan Aldo bersahabat sejak kuliah. Namun semuanya mulai berubah saat Rani diam-diam jatuh cinta pada Aldo, yang ternyata memiliki perasaan pada Dira. Dira, yang menyadari hal itu, mencoba menjauh demi menjaga persahabatan mereka, tapi justru menyebabkan konflik batin yang lebih besar. Kisah ini menggambarkan cinta yang tidak bisa dimiliki tanpa menghancurkan sesuatu yang lain.
read more
Bukan Gamon
Vira baru saja putus dari Hamdan dan merasa dunia runtuh. Ia gagal move on, hingga Hadnyan—teman mantan yang dikenal cuek dan introvert—tiba-tiba muncul dalam hidupnya. Sifat Hadnyan yang suka jahil tapi tidak pernah benar-benar hadir membuat Vira bimbang: nyaman, tapi terluka. Siklus hadir-menghilang Hadnyan membuat Vira kelelahan secara emosional, hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi. Namun, Hadnyan yang selama ini diam mulai berubah. Perasaan mulai jujur disampaikan, luka mulai diobati.
read more
Now You’re My Favorite Hello
Aisha, siswi baru di SMA, terjebak dalam dinamika hati antara Rian—sahabat sekaligus cinta pertamanya—dan sang kakak kelas misterius yang selalu menyapanya dengan hangat. Saat proyek, lomba, dan momen-momen tak terduga mempererat mereka, pilihan sulit menanti di akhir. Di malam purnama terakhir sebelum keputusan terungkap, hati Aisha bergetar: akankah ia memilih kenyamanan bersama Rian, atau keberanian merespons sapaan hangat sang kakak kelas? perjalanan mereka berujung pada satu momen yang menentukan segalanya…
read more