Pahlawan Pilihan? Salah Orang!
Chapter 5: Bab 5: Kejutan Ramalan Agung
Istana Agung dipenuhi kegaduhan yang tak pernah terbayangkan. Langit ungu keunguan berkedip-kedip, seolah mencerminkan kecemasan yang melanda setiap sudut istana. Para pelayan berlarian kesana kemari, membawa gulungan perkamen, ramuan magis, dan berbagai benda aneh yang bahkan mereka sendiri tidak tahu kegunaannya. 'Ini seperti Black Friday di dunia magis,' gumam Joni sambil memandang keributan itu dengan mata lebar. Ia masih berdiri di tempat yang sama, memegang headset-nya seolah itu adalah benda paling berharga di dunia.
Di tengah kekacauan itu, bola kristal di sudut ruangan tiba-tiba berkedip lebih keras, memancarkan cahaya merah yang mencolok. 'Error kritis terdeteksi!' suara itu mengumumkan, membuat semua orang tertegun. 'Jadwal magis mengalami gangguan. Segala upaya sedang dilakukan untuk memperbaikinya.' Para penasihat kerajaan yang tadinya sibuk berdebat kini terdiam, wajah mereka penuh ketakutan. 'Apa yang terjadi?' tanya seorang penasihat tua sambil memegangi janggutnya yang panjang.
Joni mendekati bola kristal itu dengan langkah hati-hati, seperti mendekati komputer kantor yang terkena virus. 'Ini seperti blue screen of death versi magis,' katanya sambil mengamati bola tersebut. 'Mungkin kita perlu restart sistemnya.' Tanpa berpikir panjang, Joni mengetuk-ngetuk bola kristal itu dengan jarinya. Tiba-tiba, bola itu berhenti berkedip, dan suara gemuruh rendah kembali terdengar. 'Pesan sihir telah diterima. Pahlawan dipanggil untuk memperbaiki kesalahan.'
Semua mata di ruangan itu tertuju pada Joni, yang sekarang tampak sedikit gugup. 'Jadi, saya harus menjadi IT Support untuk dunia magis ini?' tanyanya sambil tersenyum kecut. Para pelayan dan penasihat saling berpandangan, lalu tiba-tiba pecah dalam tawa. Suasana tegang yang sebelumnya menyelimuti istana perlahan mencair, digantikan oleh kebingungan dan tawa yang mengawali petualangan yang tak terduga. 'Mungkin dia memang jawaban yang kita butuhkan,' bisik seorang penasihat kepada rekannya.
Bab ini berakhir dengan Joni berdiri di tengah istana, dikelilingi oleh tawa dan harapan baru. Langit ungu masih berkilauan di atas mereka, menandakan bahwa petualangan mereka baru saja dimulai. Meski masih ada rasa keheranan, secercah optimisme mulai menyelinap ke dalam hati semua orang di istana itu. 'Siapa tahu,' pikir Joni, 'mungkin ini akhirnya menjadi petualangan yang lebih menarik daripada menangani keluhan kartu kredit yang macet.'
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.