Satu Jalan, Dua Arah
Chapter 4: Bab 4: Saran yang Mengubah Arah
Pagi itu, Lail duduk di meja kerjanya dengan tatapan kosong ke arah layar komputer. Tangannya mengetik tanpa semangat, sementara pikirannya melayang ke cerita pendek yang ia tulis semalam. Ia merasa dunia nyata dan imajinasinya semakin jauh terpisah, seolah-olah ia hidup dalam dua dimensi yang berlawanan.
"Lail, kamu baik-baik saja?" suara Rina, rekan kerjanya, memecah lamunannya. Lail menoleh dan melihat Rina berdiri di sampingnya dengan ekspresi penuh perhatian.
"Aku... baik-baik saja," jawab Lail dengan suara lemah. Namun, Rina tidak mudah tertipu. Ia duduk di kursi kosong di sebelah Lail dan meliriknya dengan tatapan penuh makna.
"Lail, aku perhatikan akhir-akhir ini kamu sering melamun. Sepertinya kamu butuh istirahat. Kenapa tidak mengambil cuti panjang?" saran Rina dengan nada khawatir.
Lail terkejut. Selama ini, ia merasa tidak ada yang memperhatikan kondisinya. Namun, saran Rina membuka pintu pikiran yang selama ini ia tutup rapat. "Cuti panjang? Tapi... aku tidak yakin itu jawabannya," gumam Lail, sambil memikirkan kemungkinan itu.
"Kadang, kita perlu menjauh dari rutinitas untuk menemukan diri kita sendiri," kata Rina dengan bijak. Kata-kata tersebut menyentuh hati Lail. Ia mulai mempertimbangkan saran itu, meskipun bayangan tekanan keluarga masih menghantui pikirannya.
Sepanjang hari, Lail terus memikirkan saran Rina. Ia merasa seperti di persimpangan jalan, antara memilih melanjutkan hidup yang aman atau mengambil risiko untuk mengejar mimpi yang selama ini ia pendam.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.