Si Bodoh yang Jenius

Chapter 3: Kesombongan yang Menjebak

Angin pagi berhembus melalui jendela kelas yang setengah terbuka, membawa serta aroma bunga kamboja dari halaman sekolah. Jojo duduk di bangku paling depan, tangannya dengan percaya diri menata tumpukan kertas ujian yang berseri-seri dengan nilai sempurna. Matanya berpindah ke sudut kanan belakang ruangan di mana Maria sedang tertunduk, jari-jarinya yang ramping memainkan ujung pita rambut seperti biasanya.

'Oi Jojo, nilai kimiamu berapa?' tanya Reza dari bangku sebelah sambil mencoba menengok. Dengan gerakan dramatis, Jojo mengangkat kertas ujiannya yang bernilai 97. Sorak kecil terdengar dari beberapa teman sekelas. 'Gila lu! Hampir sempurna!'

Jojo tersenyum tipis, matanya tanpa sadar mencari reaksi Maria. Gadis itu justru sedang asyik menggambar kupu-kupu di pinggiran buku catatannya yang penuh coretan acak. 'Kalian semua bisa dapat nilai seperti ini kalau serius belajar,' ujarnya dengan sengaja sedikit mengeraskan suara. 'Tidak seperti beberapa orang yang lebih suka melamun di kelas.'

Ruangan menjadi hening sejenak. Maria mengangkat kepala, tatapan mata besarnya yang jernih bertemu dengan Jojo untuk sesaat - cukup lama untuk membuat jantung Jojo berdetak aneh - sebelum kembali menunduk. Pipinya yang pucat tiba-tiba memerah.

Sepanjang pelajaran matematika, Jojo sengaja menjawab setiap pertanyaan Pak Hendra dengan suara lantang. Tangannya selalu pertama terangkat, penjelasannya selalu paling rinci. Tapi setiap kali dia menoleh ke belakang, Maria justru sedang memperhatikan embun di jendela atau membuat sketsa kecil di bukunya.

'Masih tentang hukum gerak Newton,' ujar Bu Siska di pelajaran fisika siang itu. Jojo langsung mengacungkan tangan. 'Bisa kamu jelaskan, Jojo?' tanya guru itu. Dengan gaya sok tahu, Jojo berdiri dan membeberkan penjelasan lengkap sambil sesekali melempar pandangan ke arah Maria.

Tapi yang membuatnya geram, Maria justru sedang membantu Rika mencari penghapus yang jatuh. 'Bu, saya mau mencoba menjelaskan!' tiba-tiba suara Maria yang lembut itu terdengar. Seluruh kelas menoleh ke arahnya, termasuk Jojo yang mengerutkan kening.

Maria berdiri dengan gemetar, buku catatannya terbuka di halaman yang salah. 'Percepatan itu... ehm...' suaranya ragu. Jojo menghela napas keras, sengaja membuat suara menganggukkan gelas air di meja guru. '9.8 meter per detik kuadrat?' tebak Maria sambil tersenyum malu.

'Salah!' seru Jojo tanpa berpikir. 'Itu percepatan gravitasi, bukan hukum Newton ketiga.' Suaranya terdengar lebih kasar dari yang dia rencanakan. Maria terdiam, jari-jarinya mencengkram tepi meja sampai buku jarinya memutih.

Bu Siska menghela napas. 'Maria, kamu harus lebih memperhatikan. Jojo, kamu juga tidak perlu menyela seperti itu.' Jojo menyunggingkan senyum kemenangan, tapi hatinya tiba-tasa berat ketika melihat Maria buru-buru duduk sambil menggigit bibir bawahnya yang sudah bergetar.

Di kantin saat istirahat, Jojo sengaja duduk di meja tengah yang strategis. Dari sana, dia bisa melihat Maria antre dengan nampan goyang di tangannya. 'Dasar cengeng,' gumamnya saat melihat Maria masih terlihat lesu.

Tapi perhatiannya tersentak ketika Maria tiba-tiba tersandung dan hampir menjatuhkan nampannya. Dengan refleks, Jojo melompat dari tempat duduknya - tapi lebih cepat darinya, Andi sudah menangkap nampan itu. 'Hati-hati, Mari,' kata Andi sambil tersenyum.

Jojo berhenti di tempat, tangannya masih terangkat setengah jalan. Dadanya sesak melihat Maria tersenyum kecil pada Andi, pipinya kembali berwarna merah muda. 'Terima kasih, Andi. Aku selalu ceroboh ya?' suaranya yang bergelombang itu membuat Jojo tiba-tiba ingin memukul sesuatu.

Sepulang sekolah, Jojo menemukan Maria sendirian di perpustakaan. Gadis itu duduk melingkar di antara tumpukan buku fisika dan matematika, alisnya berkerut keras sementara bibirnya komat-kamit membaca soal. Sesekali dia menggosok mata yang mulai berkaca-kaca.

Jojo berdiri di balik rak buku, menonton drama yang membuatnya tidak nyaman. Tangannya mengepal ketika melihat Maria mencoret-coret kertas kosong dengan frustrasi. 'Bodoh sekali,' bisiknya pada diri sendiri. Tapi langkah kakinya menolak untuk pergi.

Saat Maria akhirnya menundukkan kepala ke meja sambil memegang kedua pelipisnya, Jojo tiba-tiba ingat tetesan air mata di kertas ujian bahasa Inggris kemarin. Dadanya terasa sesak. Dengan gerakan kasar, dia membanting buku yang sedang dipegangnya ke rak. Maria terkejut, kepalanya terangkat.

Mata mereka bertemu melalui celah rak buku. Jojo melihat ke bawah, ke buku fisika Maria yang penuh coretan tidak karuan. 'Kamu bahkan tidak bisa membedakan rumus dasar,' geramnya tanpa bisa menahan diri. Maria mengerutkan kening, tapi kali ini tidak menunduk. 'Aku sedang berusaha,' jawabnya dengan suara kecil tapi tegas.

Senyum kecut muncul di wajah Jojo. 'Usaha tanpa bakat itu percuma. Lebih baik kamu pindah ke kelas bahasa saja.' Kata-kata itu meluncur sebelum dia bisa menghentikannya.

Maria berdiri tiba-tiba, buku-bukunya berantakan. Untuk pertama kalinya, Jojo melihat api kecil di mata biasanya yang lembut itu. 'Kamu tidak tahu apa-apa tentang usahaku!' suaranya gemetar. Tapi kemudian, seperti biasa, dia mengumpulkan bukunya dengan cepat dan hampir berlari keluar dari perpustakaan.

Jojo tetap diam di tempatnya lama setelah Maria pergi. Tangannya masih menggenggam erat buku fisika yang dia ambil dari rak - kebetulan buku yang sama dengan yang sedang dipelajari Maria tadi. Di halaman pertama, ada tulisan kecil menggunakan pensil: 'Aku harus bisa. Aku harus membuktikan...' Kalimat itu terputus, seperti keinginan yang tertelan ketidakmampuan.

Jam buat perpustakaan hampir berakhir ketika Jojo akhirnya beranjak. Di tempat Maria duduk tadi, dia menemukan sobekan kertas kecil berisi coretan rumus yang salah semua. Tapi di sudutnya, ada gambar kecil - bunga matahari dengan kelopak yang tidak rata, mirip dengan yang sering Maria gambar di pinggiran bukunya.

Jojo meremas kertas itu, berniat membuangnya. Tapi entah mengapa, saat sampai di depan tong sampah, tangannya menolak untuk melepaskan. Kertas kecil itu akhirnya terselip di saku celananya, hancur tapi masih utuh, seperti perasaannya yang mulai retak tapi tidak mau mengaku.

Sponsor
Banner sponsor muncul setelah chapter selesai dibaca agar ritme membaca tetap utuh.

Rekomendasi Novel

Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.

deleted

delete

Baca

Penantang Takdir

Saat gerbang antar dimensi terbuka di bumi, selurung dimensi terhubung. Sistem antar bintang yang memiliki konsel level...

Baca

Ketika Bertahan Tak Lagi Bernama Cinta

Raka dan Alena adalah pasangan lama yang bertahan bukan karena bahagia, melainkan karena takut kehilangan. Di balik hubu...

Baca

CEO yang belajar Melihat Dari Gadis Buta

seorang CEO muda yang sukses namun dingin Dan tertutup akibat penghianatan di masa lalunya. hidupnya berubah ketika bert...

Baca

le

harus bisa

Baca

Saat Bosan Mengajarkan Penghianatan

Alya dan Raka adalah pasangan SMA yang terlihat sempurna, namun kebosanan perlahan menggerogoti hubungan mereka. Saat pe...

Baca
Her Eyes on Me

Her Eyes on Me

pertemuan ttidak sengaja seorang laki-laki denganku di sebuah hotel untuk kegiatan kementerian. Laki-laki itu menaruh ra...

Baca

Ketika Janji Menjadi sebuah Rahasia

Pernikahan yang terlihat utuh perlahan retak saat kesepian membuka pintu bagi masa lalu. Di antara janji yang diucapkan...

Baca

Si Bodoh yang Jenius

Jojo, cowok pintar yang sombong, awalnya menertawakan Maria, siswi baru cantik keturunan Chinese yang bodoh dalam pelaja...

Baca