Si Bodoh yang Jenius
Chapter 5: Bimbingan yang Dipaksakan
Ruangan kelas XII IPA 1 pagi itu dipenuhi gemerisik kertas saat Bu Siska berdiri di depan papan tulis dengan daftar pasangan bimbingan belajar. 'Program tutor sebaya ini wajib diikuti,' ujarnya dengan suara mantap, jarinya menelusuri nama-nama yang sudah dipasangkan. Maria menunduk dalam-dalam ketika mendengar namanya disebut, buku catatannya digenggam erat hingga permukaan plastiknya berkerut.
'Jojo akan mendampingi Maria,' lanjut Bu Siska. Seketika kelas gaduh. Reza, teman sebangku Jojo, menyenggokkan sikunya dengan kasar ke rusuk Jojo. 'Siap-siap migren lihat kebodohannya,' bisiknya sambil terkekeh. Jojo tidak menjawab, alisnya berkerut sambil matanya menatap tajam ke aawak Maria yang semakin mengecil di bangku belakang.
Sepulang sekolah, di sudut perpustakaan yang jarang dikunjungi, Maria duduk dengan postur tubuh yang kaku. Tangannya yang berkeringat memeluk erat tas berisi buku catatan dan pensil warna-warni. Jam dinding berbunyi setiap detik, suaranya menggema di ruangan sepi. Dia melompat ketika daun pintu berderak dibuka dengan kasar.
Jojo memasuki ruangan dengan langkah berat, wajahnya masam seperti baru menghirup lemon. Melempar tasnya ke atas meja dengan keras, dia membuka laptop tanpa sepatah kata. 'Kita mulai dari fisika dasar,' ujarnya tiba-tasa, suaranya datar seperti mesin. Maria hanya mengangguk pelan, lidahnya terasa kelu.
Tapi setiap kali Maria mengernyitkan dahi tanda tak paham, Jojo semakin kesal. 'Udah jelas kayak gini masih nggak ngerti?' bentaknya saat menjelaskan hukum Newton ketiga untuk kelima kalinya. Maria menahan napas, jarinya yang memegang pensil bergetar halus. Di luar jendela, hujan gerimis mulai turun, menambah suasana muram.
Pertemuan pertama mereka berakhir dengan Maria berlari ke toilet untuk menyembunyikan air matanya, sementara Jojo berdiri di depan rak buku sambil mengepal tangan. Matanya tanpa sengaja tertuju pada coretan bunga matahari di sudut buku tulis Maria yang terbuka - desain yang sama dengan yang pernah dia simpan diam-diam.
Esoknya, Jojo datang dengan setumpuk modul berdebu. 'Ini materi dasar yang harus kamu hafal dulu,' gumamnya tanpa menatap Maria. Dengan enggan, dia mulai menjelaskan rumus-rumus dasar matematika. Tapi kali ini, meski masih kasar, nada suaranya sedikit lebih lembut. Maria sesekali mengangguk paham, wajahnya bersinar ketika suatu konsep akhirnya jelas. Jojo menoleh ke jendela setiap kali itu terjadi, seolah enggan mengakui bahwa ada kepuasan tersendiri melihat pemahaman itu.
Di pertemuan ketiga, Jojo tiba-tasa melempar buku catatan baru ke hadapan Maria. Sampulnya bergambar bunga matahari. 'Catatan lengkap SMA dari awal sampe sekarang,' katanya sembari berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Maria membuka buku itu dengan hati-hati, terkejut melihat tulisan tangan Jojo yang rapi dengan highlight warna-warni. 'Makasih...' bisiknya pelan. Jojo mendengus pendek, tapi kedua telinganya memerah.
Minggu berikutnya, Jojo mulai datang lebih awal. Tanpa dia sadari, penjelasannya semakin detail. Kadang dia menarik napas panjang ketika Maria salah, tapi tak lagi membentak. Suatu sore, ketika Maria berhasil memecahkan soal yang sulit untuk pertama kalinya, Jojo tanpa berpikir mengeluarkan permen coklat dari saku celananya. 'Hadiah buat anak SD,' godanya, tapi tangannya ragu-ragu meletakkannya di atas meja Maria.
Cahaya matahari sore menyelinap melalui jendela kaca perpustakaan, menerangi debu-debu yang beterbangan di antara mereka. Di balik benteng kesombongannya, Jojo mulai melihat kilau tekad di mata Maria yang selama ini dia remehkan. Dan Maria, di balik dinding ketakutannya, mulai menangkap secercah kebaikan dalam sikap kasar Jojo yang ternyata tidak seteguh yang dia kira.
Pertukaran antara ejekan dan bimbingan pun terus berlangsung - sebuah tarian aneh antara dua dunia yang tak pernah merasa akan bersinggungan. Dan tanpa mereka sadari, di antara rumus-rumus yang sulit dan buku catatan baru itu, sesuatu yang lain mulai tumbuh...
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.