Angka yang Sah
Chapter 3: Perhatian Selektif
Kamis pagi itu berbeda. Renata menemukan mejanya sudah diisi termokopi jurnal setebal tiga halaman ketika masuk ke ruang A301. Di pojok kanan atas, tulisan tangan biru singkat: 'Baca bagian 2.4 sebelum diskusimu hari ini'. Dia mengenali lekukan huruf 'W' yang sama seperti di papan tulis.
Sesi dimulai dengan analisis studi kasus eksperimen Stanford Prison. Pak Wisnu berjalan menyusuri deretan kursi sambil melemparkan pertanyaan. "Bagaimana kita mengukur degenerasi moral dalam eksperimen semacam ini?" Matanya mengarah langsung ke baris ketiga sebelum kalimat selesai.
"Dengan variabel kepatuhan versus rasionalisasi," jawab Renata setelah menaikkan tangan setengah jantung. "Bukan hasil akhir, tapi proses adaptasi perilaku yang jadi indikator."
"Presisi definisi operasional," sahut Pak Wisnu dengan anggukan mikro. "Tapi bagaimana kita..." Dia melanjutkan dengan pertanyaan kompleks yang hanya diarahkan kepadanya, seolah peserta lain jadi penonton. Mahasiswa di sebelah Renata menggeser duduknya.
Di akhir kelas, dia membuka berkas tugas di meja dosen. Tinta merah menari-nari di margin kertasnya. Bukan sekadar koreksi, tapi pertanyaan lanjutan: 'Apakah kamu mempertimbangkan bias temporal dalam kesimpulan ini?'. Di bagian bawah, nilai 92 terpampang dengan lingkaran sempurna.
"Progress menarik," kata Pak Wisnu tiba-tiba di belakangnya. "Tapi metodologi analisismu masih bisa diperketat." Dia menyodorkan buku referensi tambahan tanpa diminta, punggung jarinya menyentuh meja sebentar. "Bab 6."
Renata mengangguk sambil mencatat judul buku. Lonceng istirahat berbunyi, tapi dia menunggu sampai aula kosong baru beranjak. Di kantin, kopinya dingin sebelum sempat diminum karena asyik membandingkan sistem penilaian setiap dosen.
Pertemuan berikutnya terjadi di perpustakaan. Pak Wisnu sedang memilih buku di lorong filsafat ketika Renata melewatinya. "Seminggu lagi deadline makalah," ujarnya tanpa menengok, seolah tahu siapa yang berdiri tiga meter di belakangnya. "Saya menantikan argumen finalmu."
Malam itu, Renata menyusun kerangka berpikir baru. Komputer menunjukkan pukul 01:47 ketika dia menyimpan draft kelimanya. Layar terbagi dua: kiri adalah rubrik penilaian Pak Wisnu dari silabus, kanan checklist persyaratannya sendiri yang lebih ketat dari standar.
Esoknya di kelas ekonomi, tatapannya sering melayang ke jendela. Dosen sedang menjelaskan kurva permintaan ketika pikirannya membayangkan bagaimana Pak Wisnu akan memotong penjelasan ini dengan pertanyaan konsekuensi etis. Dia mencoret-coret diagram di pinggir buku: piramida hierarki kebutuhan akademik.
Perubahan halus terjadi dalam rutinitasnya. Dua jam sebelum kelas filsafat, dia sudah duduk di barisan yang sama sambil mentranskrip catatan ke dalam kode warna berbeda. Suatu ketika, Pak Wisnu mengembalikan kuis dengan komentar 'Lihat saya setelah kelas' hanya di lembarannya. Pertemuan dua menit itu menghasilkan revisi metodologis yang membuatnya bekerja hingga dini hari.
Jumat sore, ketika matahari mulai meredup, Renata menemukan paket kecil di lokernya. Amplop cokelat polos berisi tiga artikel jurnal terkait topik diskusi minggu depan. Tidak ada nama pengirim, tapi dia tahu persis siapa yang bisa memiliki akses ke publikasi langka itu.
Ketika akhirnya dia menjadi satu-satunya yang diminta presentasi kasus studi tambahan di kelas, perasaan campur aduk muncul. Bangga, tentu. Tapi juga ada desiran halus—seperti ketika simulator penerbangan memberi turbulensi—yang bertanya apakah ini standar baru yang harus terus dipenuhi. Dia menekan rasa itu dengan belajar lebih gila lagi.
Hujan turun deras malam itu. Di antara gemericik air di talang, Renata menyadari telah menghabiskan 78% waktu belajarnya hanya untuk satu mata kuliah. Tanpa disadari, timbunan buku di meja mulai condong ke arah filsafat ilmu, mengubur buku teks ekonomi dan sosiologi di bawahnya.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.