Dungeon Itu Memilihku
Chapter 5: Ketenangan yang Menipu
Lorong gua melebar seperti kerongkongan batu. Loki mengangkat tangan, isyarat berhenti singkat. "Lima menit," katanya sambil menjatuhkan diri di batu datar. Dua petarung tombak langsung membentangkan peta plastik transparan di tanah basah.
Wanita bertato api membuka termos aluminium. "Panas?" tawarnya pada Aldi tanpa menoleh. Tangan Aldi gemetar menerima cangkir logam. Kopi pahit itu membakar lidahnya, tapi membuat otot pundak sedikit kendur.
"Area zona aman lebih luas dari perkiraan," kata si petarung berhelm hijau sambil menunjuk peta. "Kita hemat tiga peluru baja." Suaranya datar, tapi ada kepuasan kecil di sana.
Aldi menyelinap pandang ke gerobak logistik. Darah monster pertama sudah mengering jadi kerak hitam di roda. Bau anyirnya bercampur aroma akar tanah dan kopi. Napasnya sekarang lebih teratur meski jantung masih berdebar kencang.
"Pemula," panggil wanita itu tiba-tiba. Namanya Dara, menurut id card yang menggantung di zirahnya. "Jangan minum terlalu cepat. Dehidrasi bunuh lebih banyak porter dari pada monster." Senyumnya mengerdil ketika Loki melempar kantung berisi telinga kering monster ke pangkuan Aldi.
"Simpan. Duit tambahan buat lo," gerutu Loki sebelum berbalik memeriksa sepatu botnya yang berlumpur. Aldi menggenggam kantung kulit itu. Isinya ringan. Terlalu ringan untuk nyawa yang baru saja mereka cabut.
Perjalanan dilanjutkan dengan ritme terukur. Tari si pemandu menyemprot cairan fluoresens setiap sepuluh meter. Garis hijau neon itu berkelap-kelip memandu jalan pulang. Aldi memperhatikan cara mereka berkomunikasi: anggukan, kode tangan, bahasa tubuh yang efisien. Tidak ada kata sia-sia.
Di persimpangan ketiga, Dara berhenti mendadak. Jarinya menunjuk goresan dalam di dinding batu kapur. "Cakaran baru?" tanyanya pada Loki yang sudah berjongkok memeriksa.
"Lama. Sarang berpindah," jawab Loki sambil mengusap debu dari alur cakaran. Tapi Aldi melihat kerutan di dahinya. Goresan itu membentuk pola spiral tak biasa, seperti simbol matematika terdistorsi.
Sepanjang dua ratus meter berikutnya, hanya suara tetesan air dan decit roda gerobak yang terdengar. Bahkan para hunter mulai sering menengok ke belakang. Suasana kepulan asap rokok dan candaan kering mereka lenyap diganti fokus membatu.
"Di briefing seharusnya ada kolam asam di sini," bisik Tari pertama kali sejak masuk gua. "Tapi…"
Lantai gua di depan mereka kering. Retakan batu alami tanpa bekas cairan korosif. Loki mengeluarkan kompas saku. Jarumnya bergetar liar sebelum menunjuk dengan stabil. "Navigasi normal. Lanjut," putusnya. Suaranya seperti mencoba meyakinkan diri sendiri.
Mereka beristirahat lagi di ruang bawah tanah yang dipenuhi kristal kalsit. Cahaya lampu helm memantulkan kerlap-kerlip biru pucat. Dara membagikan biskuit berenergi tinggi. Aldi mengunyah perlahan, merasakan betapa tubuhnya mulai terbiasa dengan dingin yang menggerogoti tulang.
"Level D ini jinak banget," cetus seorang petarung tombak sambil membenahi ikatan zirahnya. "Kayak jalan-jalan pagi ke gunung."
Tawa kecil menggemakan ruang itu. Aldi ikut tersenyum kecut. Mungkin setelah ini, ia akan percaya diri untuk raid selanjutnya. Mungkin—
Dari kegelapan lorong berikutnya, gemerisik kecil menggema. Seperti kertas dilipat. Atau sayap kelelawar terkembang. Semua kepala menoleh serempak. Loki sudah berdiri dengan pisau terhunus.
Tapi tidak ada yang muncul. Hanya udara diam yang terasa lebih padat dari sebelumnya.
"Gua memang aneh akhir-akhir ini," gerutu Dara saat mereka bersiap berjalan lagi. "Selalu ada… perasaan. Seperti jejak kaki di tengah hujan."
Loki menghentikan tim di ujung lorong. Dua jalur bercabang di depan, keduanya gelap. "Menurut peta, seharusnya cuma satu jalan lurus," gumamnya.
Tari memeriksa scanner portabelnya. "Pembacaan normal. Tidak ada energi abnormal."
Mata Aldi tertarik pada bayangan di lorong kiri. Bentuknya sekilas seperti figur manusia yang meringkuk. Tapi ketika ia mengedip, bayangan itu lenyap. Hanya ilusi kelelahan, pikirnya sambil mengusap keringat dingin.
"Kita ambil kanan," putus Loki. "Lebih lebar. Gerobak muat."
Belum sepuluh langkah, suara khas ketapel Dara mendenting tajam. Sebatang anak panah baja menancap di langit-langit gua. Dari atas jatuh tubuh kecil bersisik yang menggeliat-geliat.
"Tikus gua," katanya sambil menendang bangkai itu ke samping. "Berisik."
Tawa lega meledak singkat. Loki bahkan menyeringai. "Bagaimana pendapatmu soal dungeon, anak muda? Tidak semenakutkan kisah para veteran, bukan?"
Aldi mengangguk kaku. Tapi di kejauhan, jauh di bawah tawa itu, ia mendengar sesuatu. Seperti derit roda gerobak lain yang bergerak berlawanan arah.
Sebelum sempat memastikan, tim sudah bergerak lagi. Dara melempar padanya sebatang tongkat neon. "Jatuhkan tiap lima langkah. Markir jalan pulang."
Tongkat itu terasa hangat di tangannya. Kehangatan palsu dari bahan kimia berpendar. Aldi menurut, menandai jalan, mencoba mengabaikan sejuk aneh di tengkuknya. Dungeon ini terasa jinak. Terlalu jinak. Dan Loki, si pemburu berpengalaman, melangkah terlalu ceroboh untuk ukuran seseorang yang selamat dari enam belas kali raid.
Di peristirahatan terakhir sebelum masuk zona inti, sinar lampu Tari menyapu dinding gua. Aldi hampir menjatuhkan cangkir kopinya. Ribuan garis tipis melintang di batu, membentuk pola seperti yang ia lihat di cakaran sebelumnya. Pola spiral. Tersusun sempurna.
"Istirahat selesai!" Loki membuyarkan konsentrasinya. "Zona inti dua kilometer lagi. Jaga formasi."
Ketika mereka berjalan menjauh, lampu helm Aldi menyentuh sudut gelap dinding. Di sana, spiral-spiral itu bergerak. Perlahan. Seperti makhluk hidup.
Untuk beberapa saat, Gua Bekicot terdengar berbisik. Meski tidak ada mulut di gelap itu.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.