Ketika Bertahan Tak Lagi Bernama Cinta
Chapter 3: Bayang-Bayang yang Terlupakan
Jari-jari Raka mengetuk permukaan meja kantin dengan ritme tak sabar, suaranya tenggelam dalam riuh rendah percakapan murid-murid di sekitarnya. Matanya menyapu ruangan mencari sosok ramping dengan kuncir kuda yang biasanya sudah duduk di depannya dengan kotak bekal terbuka saat jam istirahat seperti ini. 'Lena telat lagi?' tanya Bima sambil melahap tempe goreng, tanpa mengangkat muka dari ponselnya. Raka menggerutu, tangan kanannya menggenggam erat botol air mineral bekas minum Alena kemarin—sudah ia isi ulang tiga kali sejak pagi tadi tanpa disadari pemiliknya.
Ketika akhirnya Alena muncul di pintu kantin dengan wajah pucat dan lingkaran hitam samar di bawah mata, Raka langsung melontarkan kalimat yang sudah ia siapkan sejak semalam: 'Besok ada pertandingan persahabatan sama SMA 7, jadi kita harus latihan ekstra sampai sore.' Ia sengaja tak memberi jeda untuk respons, langsung menyodorkan sebungkus risoles kesukaannya yang sudah mulai lembek oleh uap panas. Alena menerimanya dengan anggukan singkat, jari-jarinya bahkan tak menyentuh kulit Raka yang sengaja ia julurkan. 'Aku ada les tambahan sama Bu Dian, pulang duluan ya,' bisiknya begitu selesai menggigit sesuap kecil, lalu beranjak pergi meninggalkan setengah risoles dan tatapan Raka yang membeku.
Seharian Raka mencoba menangkap selintas pandang Alena di koridor sekolah. Ia memperhatikan bagaimana mantan pacarnya itu kini lebih sering menunduk saat berjalan, tangan kanannya selalu memegang lengan kiri sendiri—gerakan protektif yang tidak pernah ia lakukan dulu. Saat pelajaran kimia di siang bolong, ketika gurunya sedang asyik menerangkan rumus di papan tulis, Raka mengirim pesan singkat: ‘Kok semenjak kemarin kamu aneh?’. Ia menatap layar ponsel selama sepuluh menit penuh, menunggu tanda centang biru yang tak kunjung muncul. Di deretan bangku depan, punggung Alena tetap tegak menghadap papan tulis, rambutnya yang biasanya diikat rapi kini dibiarkan terurai menutupi leher—seperti tirai yang sengaja dipasang untuk menghalangi pandangannya.
Lapangan basket sore itu terasa lebih panas dari biasanya. Raka melemparkan bola dengan kekuatan berlebihan hingga memantul keras ke papan dan nyaris mengenai kepala Bagas. 'Awas, Ra! Lagi kesal apa?' teriak temannya sambil mengelus pelipus. Raka tak menjawab, matanya tertuju pada bangku kosong di sudut tribun—tempat Alena biasa menunggunya sambil mengerjakan PR. Sekarang hanya ada selembar kertas bekas bungkus permen yang tertiup angin, bergerak kesana kemari seperti hantu kecil yang menertawakannya. Ia menghela napas panjang, mencoba fokus pada permainan, tapi bayangan sosok Alena yang kemarin terlihat tertawa lepas dengan kawan-kawannya di kafe dekat sekolah terus menghantuinya—suara tawanya yang jernih itu seperti pisau bermata dua; indah tapi menyakitkan karena tidak ditujukan untuknya.
Sepanjang perjalanan pulang, Raka memutar kembali memori dua minggu lalu ketika Alena masih mau menunggunya di depan kelas sepulang latihan. Kini, ruang kelas 11 IPA 2 sudah terkunci rapat ketika ia melintas, padahal jarum jam baru menunjukkan pukul setengah lima. Ia mengecek ponselnya untuk kesekian kalinya—tidak ada notifikasi apa pun dari Alena, padahal biasanya sudah ada puluhan pesan bertanya menu makan malam atau cerita receh seharian. Tubuhnya terasa berat ketika membuka pintu kamar, melempar tas sembarangan ke lantai yang masih berantakan dari kemarin. Di balik bingkai foto di meja belajar—foto mereka berdua di pantai tahun lalu—terselip secarik tiket konser band indie yang sudah disobek separuh. Raka tak pernah tahu itu adalah tiket yang dengan susah payah dibeli Alena sebagai kejutan ulang tahun untuknya, karena malam itu ia lebih memilih meeting persiapan turnamen di rumah kapten tim.
Pukul sembilan malam, teleponnya berdering. Jantung Raka berdebar kencang sebelum akhirnya mengempis ketika melihat nama ‘Mama’ di layar. Ia berbicara sekadarnya, lalu menggulir layar ponsel ke galeri foto lama. Foto-foto Alena tersenyum di antara tumpukan buku di perpustakaan, tertidur di bangku taman sekolah, bahkan satu foto blur saat ia mencoba mengambil gambar diam-diam ketika Alena sedang asyik menulis puisi di kelas. Jari telunjuknya menari di atas tombol panggilan video, tapi akhirnya ia mematikan layar dan melempar ponsel ke bantal. 'Buat apa ribut-ribut, nanti juga dia balik lagi sendiri,' gumamnya sambil menatap langit-langit kamar. Di luar jendela, bulan sabit tersenyum sinis, menyaksikan bagaimana sebuah jantung yang mulai retak dibiarkan pecah berkeping tanpa usaha untuk diselamatkan.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.