Ketika Bertahan Tak Lagi Bernama Cinta
Chapter 5: Jejak Bintang dan Rasa yang Menguap
Bau disinfektan rumah sakit menusuk hidung Raka ketika matanya terbuka pada kenangan tiga tahun silam. Saat itu, aroma melati segar dari bunga di jambangan kamar Alena memenuhi udara. "Aku jatuh dari sepeda," bisiknya sambil menyodorkan tangan mungil yang lecet ke arah Raka yang gegabah memeluknya. Alena meringis menahan sakit tapi tetap tersenyum, jari-jarinya yang dingin memainkan liontin basket di leher Raka. Kini, di ruang isolasi berlapis kaca ini, luka lebih dalam menganga di pergelangan Alena yang kaku—bekas-bekas luka yang tersamar oleh perban putih namun terasa terusik dari setiap helaan napasnya.
Langit sore itu tahun lalu menyajikan lukisan merah jingga ketika Raka pertama kali mengajarinya memegang bola basket. Telapak tangan Alena yang berkeringat menempel pada kulit Raka, "Diam!" tertawanya ketika bola olok-olok melayang mengenai kepala Raka. Mereka bertumbangan di lapangan rumput, mengukir bayangan yang menyatu dengan gemericik halaman sekolah. Kini di tempat yang sama, bayangan itu terbagi oleh jurang dua meter: Alena berdiri kaku di bawah pohon palem sembari menggigit kuku jarinya sampai berdarah, tatapan hampa menghujam ke arah Raka yang mencoba menyentuh lengannya.
Hadiah ulang tahun ke-15 Alena masih tersimpan rapi di laci meja Raka—boneka kelinci dengan telinga robek dari malam ketika Raka membatalkan janji nonton bersama agar bisa berlatih. "Pokoknya harus datang!" raungnya ke telepon malam itu, tak mendengar suara cemas Alena tentang pertengkaran di rumahnya. Sekarang, boneka itu muncul kembali—kotor dan bermata kancing hilang—dalam kardus misterius yang ditinggalkan di depan rumah Raka. Hanya tulisan "Maaf" pada selembar kertas praktekan matematika yang dulu Alena coret-coret sambil menunggunya pulang latihan.
Derai tawa mereka pernah menggema di kelas kosong ketika menyelinap menghindari upacara. Alena mencorat-coret wajah Raka di buku gambar, memberi tanda bulan sabit di pipi kiri—simbol rahasia mereka saat masih sering berbagi aurat mimpi. Kini tanda yang sama muncul dalam bentuk luka tergores di lengan Alena, diawetkan oleh krusta darah kering ketika Raka menyergapnya di belakang perpustakaan. "Bukan apa-apa!" pekiknya sebelum meloloskan diri, berlinang keringat dengan daster tidur robek yang menampakkan jejak memar segar di paha kanannya.
Kembang api tahunan kota pernah menjadi saksi janji mereka di antara kerumunan orang asing. Raka malu-malu menyelipkan sisir bergagah kayu jati—hadiah usang untuk orang-orang desa, kata temannya—tapi Alena menggenggamnya erat seolah menerima berlian. Kini kameranya menangkap gambar berbeda: sisir yang sama tergeletak pecah di depan pintu kamar mandi, beberapa gigi patah berdekatan dengan bilah silet bekas pakai.
Buku harian Alena yang disembunyikan di bawah tumpukan novel kini menganga terbuka di hadapan Raka. Tinta biru dan merah saling tindih menghiasi halaman-halaman yang pernah ia sungging dengan curahan hati naif. Sebuah surat tak tersampaikan terjepit di halaman tengah, bertanggal sepuluh hari setelah ulang tahunnya yang tertunda: "Aku tahu ini egois, tapi tonggak umur itu sekali seumur hidup. Dengan kata-kata, ia menetak parit parit di antara kita—tanpa air mata, tanpa keringat terakhir yang seharusnya kutumpahkan." Potongan kalimat berikutnya terhapus oleh bercak cokelat menusuk yang diduga bekas air mata atau... sesuatu yang lebih kental.
Koridor sekolah yang kini sunyi pernah berisi langkah mereka yang berdesak-desakan menuju kantin. Jari kelingking mereka saling terkait sembunyi-sembunyi di balik buku tumpul, sandal jepit Alena terkadang terpeleset di lantai basah sehingga membuat Raka menahannya dari belakang. Kontras memilukan muncul ketika kemarin Raka nyaris menjatuhkan pistol mainan hadiah ulangtahunnya dulu—sesuatu yang luput ia curigai ketika Alena tiba-tiba sendirian di lorong gelap aperguruan tinggi.
Pertengkaran pertama mereka tentang janji yang terlewat berakhir dengan es krim rasa melon yang mencair di tangga tangga museum. Kemarahan melebur dalam gigitan kecil Alena pada kerucut wafer sisa Raka ketika udaranya mulai dipenuhi bau hujan. Dalam ingatan itu, hujan turun dengan ramah, basahan membasahi seragam tanpa dendam. Sekarang, teriakan di kamar Raka mengganti bunyi jendela yang pecah terkena batu kecil—sebuah benda berbentuk hati hasil kerajinan tanah liat yang Alena buat tiga musim lalu, kini retak dan terkontaminasi nemis dan benang merah melingkarinya seperti belatung pupus.
Di antara kegetiran ini terbersit kenangan tentang pagi selepas ujian ketika Alena menanti jam berhias kabut di taman sekolah. Tangannya menenteng bekal nasi goreng hangat yang setengahnya terjatuh ketika Raka memeluknya dari belakang karena kagok. Wadah plastik transparan itu kini terselip di bawah kasur Alena—sobekan bagian pinggirnya terkelupai dan dipenuhi tulisan-tulisan micron pen tipis: "tolong sadar aku masih nyawa".
Detak jam dinding rumah sakit ini membosankan ritmenya, seolah menantang Raka yang menatap kosong ke dpn pintu ruang ICU. Lampion miniatur yang pernah mereka rajut dari tali raffia pada kegiatan ospek bergelantungan dekat TV monitor—salah satu benangnya terurai seperti umur yang menipis. Di balik kaca, jari telunjuk Alena bergerak kecil sekali—menyentuh gelang anyaman yang pernah Raka berikan sembunyi di bawah meja kelas, karya yang dulu ia banggakan sepanjang masa yang kini membelit dengan erat hingga meninggalkan kadar pulsa lemah di pergelangan tangan yang kian pucat.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.