delete lagi
Chapter 4: Pagi yang Menggoda
Pagi itu aku terbangun dengan perasaan yang sama seperti malam sebelumnya. Istriku masih terlelap di sampingku, nafasnya teratur dan wajahnya terlihat damai. Aku tersenyum melihatnya, mengingat betapa panasnya malam tadi.
Perlahan aku bangkit dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Setelah selesai membersihkan diri, aku kembali ke kamar dan melihat istriku masih tertidur. Tiba-tiba sebuah ide muncul di benakku.
Aku membuka lemari pakaian istriku dan mencari sesuatu yang seksi. Akhirnya aku menemukan sebuah daster pendek berwarna merah dengan lengan pendek yang hanya sampai di atas lutut. Aku tersenyum melihatnya, membayangkan betapa menggodanya istriku nanti jika memakainya.
Aku kembali ke samping istriku dan dengan lembut membangunkannya. "Sayang, ayo bangun. Aku punya kejutan untukmu," kataku sambil tersenyum.
Istriku mengucek matanya dan duduk sambil menguap. "Kejutan apa lagi ini?" tanyanya penasaran.
Aku memberikan daster merah itu kepadanya. "Ini, pakai ini. Aku ingin melihatmu seksi hari ini," pintaku.
Istriku tersenyum malu-malu dan menerima daster itu. "Ini sih cuma daster biasa," katanya.
Aku menggeleng. "Bukan, ini spesial karena kamu yang memakainya. Ayo, pakai dan aku yang siapkan sarapan," ujarku sambil mencium keningnya.
Istriku mengangguk dan mulai berganti pakaian. Aku tersenyum melihatnya, membayangkan betapa indahnya pemandangan nanti saat dia berjalan-jalan di rumah dengan daster itu.
Setelah sarapan, kami menghabiskan waktu bersama di ruang keluarga. Aku memperhatikan istriku yang sedang menonton TV dengan daster merahnya yang menggoda. Daster itu memang pendek, membuat pahanya yang putih mulus terlihat jelas. Apalagi tanpa BH dan celana dalam, payudaranya yang montok terlihat menggantung bebas di balik kain tipis itu. Belahan vaginanya juga samar-samar terlihat saat dia bergerak.
Tiba-tiba aku menyadari putra kami yang baru berusia 19 tahun memperhatikan ibunya dengan tatapan aneh. Matanya seakan tak lepas dari tubuh ibunya yang seksi itu. Aku tersenyum dalam hati, membayangkan apa yang mungkin terlintas di benaknya.
Putra kami duduk di sofa seberang, hanya mengenakan celana kolor longgar yang membuat kontolnya terlihat jelas saat tegang. Beberapa kali aku melihatnya mencoba mendekati istriku dengan alasan mengambil remote atau sekedar lewat. Setiap kali itu terjadi, tangannya sengaja menyentuh tubuh istriku atau bahkan memeluknya dari belakang.
Aku hanya tersenyum melihat pemandangan itu. Nafsuku semakin memuncak membayangkan apa yang mungkin terjadi nanti malam saat aku lembur di kantor. Aku akan pura-pura tertidur dan membiarkan mereka melakukan apapun yang mereka mau. Biarkan putraku merasakan tubuh ibunya, biarkan istriku merasakan kontol anaknya sendiri. Aku yakin itu akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi mereka berdua.
Malamnya setelah kami menyelesaikan makan malam, aku memberi kode pada istriku untuk bersiap-siap tidur. "Aku ada lembur lagi malam ini, sayang. Kamu tidur duluan saja," kataku sambil mengecup keningnya.
Istriku mengangguk mengerti. "Hati-hati di jalan ya, Mas," ujarnya.
Aku tersenyum dan beranjak dari tempat duduk. Sebelum keluar rumah, aku melihat putra kami yang sedang asyik dengan ponselnya. "Hei, jangan begadang terus. Istirahat yang cukup," kataku sambil menepuk bahunya.
Putra kami mengangguk. "Iya, nggak papa kok, Pak. Lagi nggak ada kerjaan juga," jawabnya.
Aku tersenyum dan keluar rumah. Di dalam mobil, aku tak bisa menahan senyum bahagia. Malam ini akan menjadi malam yang panas dan menggairahkan. Aku tak sabar menantikan apa yang akan terjadi saat aku pura-pura tertidur nanti.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.