Surat untuk Hari Terakhir
Chapter 3: Lembaran-Lembaran yang Tak Pernah Terbaca
Pukul 23.17. Reno terlelap dengan wajah menghadap jendela, dengkurannya menyelaraskan diri dengan derit kaki ranjang kayu tua. Nara menyelinap keluar pelan-pelan, jari-jemarinya meraba dinginnya gagang pintu lemari pakaian. Di balik tumpukan kaus Reno yang masih beraroma sabun kayu putih, stoples kaca berisi gulungan surat-surat lavender tersembunyi bagai kuburan kata-kata. Malam ini, seperti enam puluh tiga malam sebelumnya, ia mengeluarkan kertas baru berparfum melati pemberian ibunya dulu.
Diana, kucing persia buluk peninggalan nenek, menggesekkan badannya ke betis Nara yang menggigil kedinginan. Di meja kayu lapuk dekat jendela, mantel Reno masih menggantung dengan kantong sebelah kiri yang robek sedikit—bekas tersangkut pagar taman minggu lalu saat mereka kejar-kejaran seperti anak SMA. Nara mengulum ujung pulpen emas, air matanya tiba-tiba jatuh menodai kata pembuka 'Untuk Masa Depan yang Enggan Datang'.
Tangannya menari cepat di atas kertas. Kata-kata derit papan lantai ketika Reno pulang larut tiga hari lalu. Rasa kecut di perut saat menemukan helai rambut pirang panjang di jaket Reno. Ingatan bagaimana tangan Reno gemetar saat memegang ponsel dua panggilan tak terjawab dari 'Ibu' di kontaknya. Semua mengalir deras bagai sungai yang meluap. Di paragraf kelima, tintanya tumpah membentuk noda biru tua mirip peta pulau tak dikenal.
Pukul 00.48. Bunyi detak jam dinding bergema di ruangan yang hampa udara. Surat keempat malam ini sudah terlipat rapi dengan garis lipatan tajam menyakiti jari. Dalam cahaya lilin aroma vanila, Nara memperhatikan bekas gigitan pulpen di jari tengah sebelah kiri—lesung kecil yang semakin dalam oleh kebiasaan. Lima surat yang belum selesai berserakan di lantai, satu memumpahkan kalimat 'Aku ingin mencintaimu seperti menunggu hujan di musim kemarau—' terpotong tiba-tiba oleh suara Reno yang berguling di ranjang.
Dengan gemetar ia menyembunyikan semua bukti kegelisahannya di bawah karpet merah tua, persis seperti sembilan tahun silam saat menyembunyikan surat cinta untuk guru matematikanya. Bau harum tajam melati bercampur keringat dingin menciptakan aroma khas ruang pengakuan dosa. Di kejauhan, bunyi kereta malam melengking mirip perempuan menangis.
Ketika fajar menyingsing, Nara duduk tegak menatap stoples yang sekarang penuh sesak. Jari-jarinya mengetuk kaca dingin, mengeja nama penerima surat bayangan yang tak pernah ia berani ucapkan. Reno membelainya dari belakang sambil bergumam sayang, tak menyadari bahwa kepalan tangan kirinya sedang menggenggam erat kunci lemari tempat semua rahasia disimpan. 'Seluruh hidup kita adalah dokumen yang tak terkirim,' bisik Nara dalam hati sambil menyipitkan mata menyaksikan kabut pagi menyelimuti kenangan-kenangan yang ia simpan dalam botol-botol kata.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.