Surat untuk Hari Terakhir
Chapter 5: Tinta Biru di Atas Kertas Diagnosa
Dinding klinik neurologi itu berwarna biru pucat—warna yang sama dengan tinta pulpen yang selalu muncul di kulitnya. Nara mencengkeram lengan kursi kulit sintetis yang dingin, setiap detak jam dinding seperti palu godam menghancurkan tengkoraknya. 'Defisit memori episodik progresif... atrofi hipokampus bilateral... kemungkinan besar early onset Alzheimer's,' suara dokter pecah menjadi serpihan logam. Matanya menatap kosong ke secarik kertas yang penuh coretan biru—warna nasibnya yang terkutuk.
Di kamar mandi klinik, ia muntah air liur kuning. Kukunya mencakar keramik dingin sembari memandangi pantulannya di cermin buram. 'Jadi begini rupa pencuri memori?' bisiknya pada bayangannya sendiri yang makin asing. Dari tasnya, aroma almond panggang menguar—makanan beracun yang dibelinya tanpa sadar tadi pagi—seolah-olah alam bawah sadarnya sedang bermain musik kamar untuk kehancuran diri.
Pulang naik taksi, dunia luar berkedip seperti film rusak. Plang neon toko kue memuntahkan cahaya merah menyala-nyala yang membuatnya teringat karpet tempat persembunyian surat-suratnya. Tangannya gemetar menulis di buku harian pink: 'Kepada Nara yang lebih parah: hari ini mereka bilang kau akan lupa caranya lupa.' Titik-titik tinta biru menembus kertas sampai ke halaman belakang.
Malam itu, Reno membuat carbonara dengan bacon gosong. 'Kau baik-baik saja?' tanyanya sambil menyeka saus krim di pipi Nara dengan jarinya. Dari saku celana Reno, selembar struk belanja terbang keluar—tanggal tiga hari lalu, daftar belanjaan termasuk stout dan ... bunga krisan putih. Nara mengunyah pasta yang terasa seperti pasir, sambil mengamati helai rambut pirang mikroskopis di bantal mereka yang tiba-tiba bersinar terang dalam kegelapan.
Pukul 03.17, ia terbangun dengan jantung berdebar liar. Di bawah sinar bulan, tangannya mencorat-coret tanpa kendali di kertas surat: 'Untuk Reno, jika kau membaca ini, berarti aku sudah lupa caranya marah padamu karena selingkuh.' Surat itu ia simpan di stoples kaca bersama yang lain, sambil mendengar suara desisan lembut dari ruang tamu—suara pesan masuk di ponsel yang disembunyikan.
Subuh menyingsing ketika Nara menemukan foto diri kecil di balik laci yang terlupakan. Seorang bocah tersenyum memegang es krim coklat, dengan latar belakang taman yang kini sudah jadi apartemen Reno. Airmatanya jatuh membasahi sudut foto yang terbakar karena tersimpan terlalu dekat dengan kabel charger laptop. Di saku jaketnya, resep obat donepezil mulai melengkung oleh keringat telapak tangan yang tak pernah bisa lagi mempercayai apapun—termasuk ingatannya sendiri.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.