Asmara yang Terkikis: Cinta di Ambang Luka
Chapter 2: Awal yang Indah
Matahari pagi menyapu lembut kampus Universitas Brawijaya, Nadia dan Reza masih senyum sendu sementara mereka berjalan menuju kafe favorit. Waktu rasanya berjalan begitu cepat, ya, baru sebulan mereka bersama namun semuanya terasa alami seperti sudah bertahun-tahun. Nadia dengan mata cerahnya seringkali terlihat tersipu malu mendengar canda Reza yang selalu berhasil membuatnya tertawa. Reza, yang biasanya cenderung serius dan pendiam saat kuliah, tampak lebih hidup dan ceria ketika berada di dekat Nadia.
Mereka menghabiskan setiap hari dengan kebersamaan yang penuh kehangatan. Pagi mereka sering dihabiskan dengan sarapan bersama di kampus, siangnya belajar di perpustakaan sembari bertukar buku favorit, dan ketika malam tiba, mereka kadang duduk di taman kampus, berbincang tentang impian masing-masing. Nadia bercerita tentang mimpinya menjadi seorang penulis, sementara Reza mengungkapkan keinginannya untuk membangun perusahaan teknologi sendiri. Mereka saling mendukung, saling menguatkan, dan dalam setiap momen itu, cinta mereka tumbuh semakin dalam.
Hari-hari berlalu dengan indah, penuh tawa dan kebahagiaan. Nadia merasa dirinya adalah wanita paling beruntung di dunia karena memiliki Reza, dan Reza pun merasa sama. Mereka seperti dua puzzle yang saling melengkapi, menemukan kenyamanan dan kebahagiaan dalam pelukan satu sama lain. Namun, di balik semua kebahagiaan itu, ada sesuatu yang mulai menggeliat dalam diri Reza, sesuatu yang belum mereka sadari akan mengubah segalanya.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.