Bisikan di Kamar Kosong
Chapter 5: Bangun di Tempat Asing
Mata Dinda perlahan terbuka, tapi sinar matahari yang menyilaukan membuatnya mengerjap. Dia merasa tubuhnya kaku, seolah baru bangun dari tidur yang berat. Perlahan, dia mencoba duduk, dan rasa pusing langsung menyerang. Kepalanya berdenyut-denyut, seolah ada sesuatu yang berusaha memecahkan tengkoraknya dari dalam.
Saat matanya mulai beradaptasi dengan cahaya, Dinda menyadari sesuatu yang aneh. Dia tidak berada di kamarnya. Tempat ini sama sekali tidak dikenalinya. Dia duduk di atas rumput yang basah, dikelilingi oleh pohon-pohon tinggi yang daunnya bergemerisik tertiup angin. Suara burung berkicau di kejauhan, tapi tidak ada suara manusia.
Dinda merasakan panik mulai merayap. Dia mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum dia tertidur, tapi ingatannya kabur. Segala sesuatu terasa seperti mimpi buruk yang tak bisa dia ingat dengan jelas. Dia merasakan tangannya gemetar saat mencoba berdiri, tapi kakinya lemas. Dia terjatuh kembali ke tanah, tangan kanannya menahan tubuhnya yang goyah.
'Bagaimana aku bisa sampai di sini?' batinnya bertanya-tanya. Dia mencoba mengingat malam sebelumnya, tapi yang muncul hanyalah bayangan-bayangan gelap dan bisikan-bisikan yang tidak jelas. Dia merasakan sakit di pelipisnya saat mencoba memaksa ingatannya kembali.
Setelah beberapa saat, Dinda mencoba berdiri lagi. Kali ini, dia berhasil. Dia melihat ke sekeliling, mencoba mencari petunjuk di mana dia berada. Dia melihat sebuah jalan setapak di antara pohon-pohon. Tanpa pilihan lain, dia memutuskan untuk mengikuti jalan itu, berharap akan menemukan seseorang yang bisa membantunya.
Setelah berjalan beberapa menit, Dinda mulai merasa sedikit lega. Dia melihat sebuah bangunan kecil di kejauhan. Sebuah pos penjagaan. Dia mempercepat langkahnya, harapannya mulai tumbuh. Mungkin ada orang di sana yang bisa membantu.
Saat dia mendekati pos itu, seorang penjaga tua muncul dari dalam. 'Kamu baik-baik saja, nona?' tanyanya, suaranya penuh kekhawatiran.
Dinda merasa air mata mulai mengalir di pipinya. 'Saya... saya tidak tahu bagaimana saya sampai di sini,' katanya, suaranya bergetar.
Penjaga itu mengangguk, seolah sudah terbiasa dengan situasi seperti ini. 'Mari kita cari bantuan untukmu,' katanya sambil mengulurkan tangannya.
Dinda merasakan sedikit kelegaan saat dia mengikutinya. Dia tahu ini hanya awal, tapi setidaknya dia tidak sendirian lagi. Dia harus mencari bantuan, mencari jawaban atas apa yang terjadi padanya. Dia tidak bisa terus seperti ini.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.