Hatiku untuk Selamanya
Chapter 1: Kabut Kabar Pahit
Langit sore itu terasa begitu kelam, seolah ikut merasakan kegelisahan yang menyelimuti hati Diana. Telepon genggamnya berdering, suaranya memecah kesunyian ruang tamu kecilnya. Diana mengangkatnya dengan tangan gemetar, jantungnya berdegup kencang seolah sudah tahu bahwa kabar yang akan datang bukanlah kabar baik.
"Diana, ini dokter Rina dari RS Harapan," suara di seberang telepon terdengar serius namun penuh empati. "Kami perlu kamu segera datang ke sini. Kondisi ayahmu... dia tidak baik-baik saja."
Dunia seakan berhenti berputar. Diana merasa napasnya tertahan, matanya berkaca-kaca. Ayahnya, sosok yang selalu menjadi pelindung dan sandarannya, kini terbaring lemah di rumah sakit. Dia tidak bisa membayangkan hidup tanpa kehadirannya.
Dengan langkah terburu-buru, Diana mengambil jaketnya dan berlari keluar rumah. Udara dingin menyambutnya, tapi rasa itu tidak sebanding dengan dingin yang merasuk ke dalam hatinya. Pikirannya dipenuhi oleh bayangan ayahnya, wajahnya yang selalu tersenyum, suaranya yang menenangkan. Dia berharap ini hanya mimpi buruk yang akan segera berlalu.
Di dalam taksi, Diana memandang keluar jendela. Kota yang biasanya terasa ramai kini terasa sunyi dan asing. Setiap detik terasa seperti abadi, setiap kilometer menuju rumah sakit terasa seperti perjalanan tanpa akhir. Dia berdoa dalam hati, memohon agar ayahnya diberi kesempatan untuk bertahan, untuk kembali memeluknya dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Ketika taksi akhirnya berhenti di depan RS Harapan, Diana melompat keluar dan berlari menuju pintu masuk. Hatinya berdebar kencang, setiap langkahnya terasa berat namun dia terus melangkah. Dia tahu, di balik pintu itu, ayahnya menunggu. Dan dia tidak akan membiarkan ayahnya menghadapi semua ini sendirian.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.