He Likes My Best Friend, But He Looks At Me
Chapter 3: Sudah Menjadi Situasi yang Tidak Terhindarkan
Hari itu, guru memindahkan tempat duduk. Aku duduk di samping Arka, seperti biasanya, tetapi perasaanku berbeda. Bukan karena Arka berubah, tetapi karena tempat duduk yang pernah aku duduki bersama Naya sekarang jauh di belakang. Kaca pemandangan kelas yang sama sekali tidak berubah, tetapi seolah-olah ada kutipan kecil yang terlewat dari kehidupan kita.
Arka dan Naya tetap seperti dulu—bertukar canda, tertawa, dan bahkan bebas mengalirkan kehidupan mereka di sampingku. Tapi aku hanya duduk di samping mereka, lain dari yang lain. Setiap kali Arka menertawakan Naya dengan caranya yang biasa, aku merasakan hatiku bergetar, tapi tidak cukup untuk mengungkapkan perasaanku. Aku hanya diam, tetapi hatiku penuh dengan rasa iri yang tak bisa dipertahankan.
Kita semua duduk di sini, menghadapi hari yang sama, tetapi kebahagiaan mereka nyata, sedangkan kebahagiaanku hanya sekadar bayangan. Aku terus berusaha, meskipun tidak pernah tahu apakah usahaku akan membuahkan sesuatu. Tapi untukku, kebahagiaan itu tidak bisa diucapkan, hanya diingat dalam keheningan yang tak pernah berakhir.
Tidak ada teman, tidak ada pengakuan, hanya semacam kebisingan yang berbisik dalam hatiku: 'Aku tidak cukup bagimu.' Tapi aku hanya duduk, terus duduk, dan mencoba untuk menjadi bagian dari cerita yang tidak pernah berakhir.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.