He Likes My Best Friend, But He Looks At Me
Chapter 4: Curhatan yang Tidak Diketahui
Sekarang, aku terbiasa mendengar Naya berbicara tentang Arka. Dulu, aku tidak pernah memperdulikan obrolan mereka, tapi kini, setiap kata yang keluar dari mulutnya seperti goresan pada hatiku yang terluka. Mungkin karena aku lebih sedih daripada sebelumnya, atau mungkin karena aku mulai sadar bahwa aku terlalu lama duduk di samping keduanya, tapi tidak pernah masuk ke dalam cerita mereka.
Naya mulai bertanya padaku, 'Kamu pernah merasa seperti ini, kan?' Aku hanya tersenyum, tapi hatiku berdebar. Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaannya? Aku tidak punya jawaban, karena aku pun tidak tahu apa yang sebenarnya rasaku. Aku hanya tahu bahwa setiap kali Arka memandang Naya, itu seperti sinar yang menembus hatiku, menyinari kegelapan yang tidak pernah pudar.
Aku mulai mendengar cerita yang tidak pernah kuduga dari Naya. Sekali lagi, aku hanya menjadi pendengar, tapi kini, aku merasakan bahwa kecemburuan yang selama ini kubungkam tidak akan bisa tersembunyi lagi. Setiap percakapan antara mereka seperti pengingat tajam yang menyakiti. Aku hanya bisa menggelengkan kepala, terus menggelengkan kepala, karena aku tahu, aku tidak akan pernah bisa mengambil tempat di samping mereka.
Dari samping kursi, aku hanya diam. Tapi hatiku berdebar, terus berdebar, mengingat kembali kehangatan yang pernah kudapatkan, saat aku masih percaya bahwa aku bisa menjadi bagian dari cerita mereka.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.