Her Eyes on Me
Chapter 1: Tabrakan Tak Terduga
Tas ranselku masih menggantung di satu bahu ketika aku melangkah ke lobi hotel mewah itu. Suara gemerisik kertas dan obrolan peserta memenuhi udara. Aku mengencangkan cengkeraman pada map dokumen kegiatan berlogo kementerian, nomor peserta terpal jelas di dadaku.
‘Maaf!’ seru seseorang tiba-tiba. Tubuhku tersentak ke depan, dokumen-dokumen beterbangan seperti daun kering di tangan yang tidak sempat meraihnya. Bau kayu Oak dan vanilla menyergap hidungku sebelum aku sempat menatap wajah pria yang baru saja menabrakku.
Dia jongkok lebih dulu. ‘Sungguh tidak sengaja,’ ucapnya sambil memunguti dokumenku satu per satu. Tangannya yang ramping secara tak sengaja menyentuh jariku saat menyerahkan tumpulan kertas itu. Kulitnya hangat.
Ketika mataku naik ke wajahnya, napasku tersekat. Dia mengenakan kaus hitam polos dengan jaket denim longgar, rambutnya ikal pendek berantakan. Namun yang membuatku terpaku adalah tatapannya—hitam, dalam, terlalu lama menahanku dalam diam yang membuat jantung tiba-tiba berdegup kencang. Pipiku terasa panas.
‘Kamu dari SMA 8?’ tanyanya tiba-tiba, suaranya berat namun lembut seperti bisikan angin malam. Aku mengangguk kaku, tidak menyadari logo sekolahku yang terpampang di rompi seragam. Jarak antara kami tiba-tiba terasa sempit meskipun dia tak bergerak mendekat.
Sebelum sempat kujawab, bel berbunyi tiga kali dari arah ballroom. ‘Sepertinya kita harus masuk,’ ucapnya sambil tersenyum tipis. Aku menelan ludah. Tanganku gemetar saat mengambil dokumen terakhir dari lantai marmer. Saat berdiri, bayangannya masih terasa menghantui punggungku hingga aku melewati pintu ballroom. Siapa dia?
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.