Kamar 404: Hotel Terlarang
Chapter 5: Jejak Darah
Kembali dalam mimpi gelap, traveler merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan—seolah-olah ia digiring oleh suatu kekuatan tak terlihat. Ia berjalan menelusuri koridor yang terasa semakin gelap, di mana dindingnya menggantung lukisan-lukisan kuno yang memancarkan aura mengerikan. Lampu di langit-langit mulai memadamkan cahaya, membiarkan kamar-kamar terlihat seperti jawaban atas pertanyaan yang tidak pernah ia ajukan.
Tiba-tiba, ia melihat sesuatu di balik sudut ruangan—sebuah titik kecil yang bergerak. Ia mengikuti dengan hati berdebar, tahu bahwa ini adalah petunjuk yang harus diambil. Ia melangkah pelan, rasanya seperti berjalan di atas batu yang menunggu untuk pecah. Setiap langkah terdengar seperti suara yang menunggu untuk dibuka.
Ia melihat darah di lantai, berlumuran di depan pintu yang terbuka perlahan. Jejaknya terus-menerus mengarah ke ruangan tersembunyi berikutnya, menghalangi langkah-langkahnya dengan rasa takut yang tak terungkap. Ia merasakan sesuatu yang hilang dari dirinya, seakan-akan ia tidak lagi berada di dunia nyata.
Ruangan yang terbuka berisi kantong-kantong darah yang tumpah ke lantai, dan di tengahnya terdapat sebuah pintu hitam yang menggantung di dinding, seperti di tempat yang tidak pernah bisa ditemukan. Di depannya, suara-suara itu semakin keras, seolah-olah sesuatu yang tidak bisa dihindari menunggu untuk menangkapnya. Ia berdiri di depan pintu itu, dan ia tahu—ia sudah berada di ambang kebenaran.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.