Kamar 404: Hotel Terlarang
Chapter 4: Kamar yang Tidak Pernah Ditinggalkan
Bab 4 dimulai dengan traveler mencoba membuka pintu kamar 404, tetapi pintu itu kini terkunci dari luar, seperti benda yang tidak bisa diganggu oleh kehendak manusia. Ia mengetuk dengan keras, namun suara itu tidak terdengar. Pintu tidak bereaksi, seolah-olah ia berada di balik tabir misteri yang terlalu mengerikan untuk dipahami. Ia berusaha memutar kunci dengan kekuatan, tetapi kunci itu terasa licin dan tidak memiliki reaksi apa pun.
Keringat dingin membasahi keningnya. Ia menatap pintu dengan takut, seakan-akan ia tahu bahwa di balik pintu itu tersembunyi sesuatu yang tidak ingin keluar. Langkah-langkahnya terasa semakin berat, seolah-olah setiap langkah yang diambil dalam kamar ini akan mengubah nasibnya. Ia teringat kembali lukisan kuno yang menggantung di dinding, mata-mata yang terus menatapnya, dan suara-suara yang menyeramkan dari koridor gelap.
Suara itu kembali, lembut dan jelas, menyeru darinya. Ia berdiri di tengah kamar, memandang pintu yang tidak bisa ditinggalkan. Mungkin ia tidak perlu pergi keluar. Mungkin ia sudah menjadi bagian dari mimpi itu, bagian dari penghuni kamar 404 yang tidak pernah akan keluar, sebelum ia membuat keputusan yang benar—atau mungkin, ia tidak akan pernah bisa membuat keputusan apa pun sama sekali.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.