Ketika Janji Menjadi sebuah Rahasia
Chapter 3: Bunga Melati di Antara Langit Petang
Langit Jakarta berwarna jingga tua ketika Nara melangkah keluar ballroom. Embusan angin malam mengusik gaun hitamnya yang seharusnya melindungi dari dingin, tapi tak bisa menandingi dinginnya pesan tak terbaca dari Arkana. "Tuan Raka meminta ini untuk Nyonya," seorang pelayan tiba-tiba menyodorkan kotak kecil terbungkus kertas washi bermotif melati. Tangannya gemetar membuka lipatan kertas—sebuah botol minyak angin merek lokal, merek yang sama yang selalu dipakai Raka saat mereka begadang mengerjakan tugas kuliah dulu.
Dari balik tirai kaca, Nara melihat Raka sedang berbicara serius dengan wanita berbikini magenta tadi. Tapi matanya selalu kembali mencuri pandang ke arahnya, sebuah kode lama yang mereka punya: alis kanan diangkat dua kali berarti "Aku ingin menyelamatkanmu dari pesta membosankan ini". Nara mengepalkan tangan di balik gaunnya, mencoba menahan dorongan untuk membalas kode itu.
Sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya yang masih dalam mode diam: "Atap gedung. 5 menit. Kalau kamu masih suka melihat langit senja sambil mendengar dentang lonceng katedral." Nara menyentuh kalung mutiaranya—hadap nikah dari Arkana yang now terasa seperti belenggu. Dentang pertama lonceng tepat ketika ia menekan tombol elevator menuju lantai 55.
Raka sudah berdiri di tepi kolam refleksi yang memantulkan mega merah. Di tangannya ada dua cangkir wedang jahe dalam gelas keramik, bukan champagne berbahan kristal seperti yang disuguhkan pada tamu undangan. "Masih ingat?" ujarnya sambil menyodorkan cangkir, "Kamu selalu bersin-bersin setiap keluar ruangan AC di malam hari." Aroma jahe dan gula merah yang kental membuat Nara tersedak rasa haru. Arkana tak pernah ingat alergi dinginnya, bahkan selalu memaksanya ikut acara outdoor di pegunungan.
Mereka duduk di bangku beton yang seharusnya keras, tapi karena Raka telah mengalasi dengan jaket woolnya, terasa lebih hangat daripada sofa kulit di suite hotel. "Gedung Bursa Efek..." Nara memulai percakapan aman, "Kamu memakai sistem ventilasi yang mengingatkanku pada teori arsitektur tropis Pak Darmawan." Raka menoleh tajam, matanya berbinar seperti mahasiswa berusia dua puluh tahun yang mendengar nama dosen favorit, "Kamu masiiih ingat? Kita pernah dihukum membersihkan maket yang rusak semalaman karena tertawa ngakak saat beliau menjelaskan konsep cross ventilation!"
Percakapan mengalir seperti sungai yang longkang setelah hujan deras—tentang kafe tua tempat mereka biasa diskusi, tentang pohon flamboyan yang selalu berbunga tepat saat ujian akhir, tentang cara Raka menyelipkan daun kering di antara halaman sketsa Nara sebagai penanda. Hal-hal kecil yang tak berarti bagi dunia, tapi meruntuhkan benteng pertahanan Nara perlahan-lahan.
Ketika langit mulai gelap, Raka mengeluarkan portable charger dari saku dalam jasnya, "Ponselmu lowbat sejak tadi kan? Daripada nanti..." Ia tak menyelesaikan kalimat, tapi Nara tahu itu terkait Arkana yang mungkin akan menelepon. Gestur sederhana ini membuatnya tersadar: Arkana tak pernah menyiapkan charger cadangan untuknya, bahkan saat tahu Nara sering tersesat karena GPS mati.
Angin bertiup kencang ketika Raka tiba-tiba berdiri dan melepaskan syal wolnya, "Ini—" Ia membelitkannya dengan canggung di leher Nara, jari-jarinya sesaat menyentuh dagunya, "Kupikir warna maroon tetap yang terbaik untukmu." Syal itu masih hangat, masih membawa aroma kayu cendana dan sesuatu yang sangat Raka—campuran keringat dan keras kepala.
Nara memejamkan mata ketika dentang lonceng ketujuh berbunyi. Ia membayangkan Arkana di suatu tempat: mungkin di ruang rapat megah sambil menyumpal fakta kehancuran pernikahan mereka, atau mungkin di apartemen misterius bersama wanita berbibir merah seperti noda di kerah kemejanya seminggu lalu. Tapi di sini, di antara gemuruh kota dan harum melati artifisial, ada seorang pria yang mengingat detail dirinya seperti Alkitab pribadi.
Sebelum turun elevator, Raka menyelipkan amplop kecil ke genggaman Nara, "Jangan buka sekarang." Di dalamnya, ternyata tiket pameran seni kontemporer beserta selebaran rumah melati—proyek arsitektur pertama mereka dulu yang tak pernah terwujud. Di sudut kertas, tulisan tangan Raka yang khas: "Bisakah kita mulai lagi dari halaman 107? Halaman dimana kamu menggoreskan desain rumah kita di pinggir buku kuliahku."
Sementara di tempat parkir bawah tanah, ekor lampu Mercedes Arkana menyala merah saat ia menatap Nara dari balik kaca film gelap. Jam tangan Rolex-nya menunjukkan pukul 20:47—tiga jam setelah panggilan terakhirnya tak diangkat.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.