Ketika Janji Menjadi sebuah Rahasia
Chapter 2: Dua Pasang Mata yang Tak Bisa Bohong
Peralatan masak premium berdering ketika Nara menekan tombol elevator di lobby Hotel Gran Mahakam. Bau parfum mewah dan desir gaun sutra memenuhi udara. "Acara tahunan PT. Bumi Sentosa", demikian tulisan di spanduk megah. Tangannya berkeringat dingin menggenggam undangan platinum pemberian Arkana—"Aku tidak bisa datang, Nar. Kamu saja yang mewakili"—alasan klise yang sekarang mulai ia kenali polanya.
Orkestra dimulai ketika Nara melangkah ke ballroom. Ratusan pasangan bergoyang dalam balutan cahaya kristal chandelier. Di sudut bar, seorang pria bertubuh tegap dengan kacamata frameless sedang mengobrol dengan sekelompok eksekutif. Kakinya terpaku di lantai marmer ketika pria itu menoleh—Raka. Delapan tahun mengubahnya: rahang yang lebih tajam, sikap yang percaya diri, tapi tatapan matanya masih sama, seperti dua kolam jernih yang dulu sering membuat Nara tenggelam.
Mereka berdiri kaku di antara gelas-gelas champagne yang bersinar. "Nara...?" suara Raka serak, "Kamu masih pakai parfum melati?" Pertanyaan sederhana itu melubangi benteng ketegarannya. Pria itu ingat. Ingat bagaimana dulu ia selalu mengoleksi bunga melati di vas kamar kosnya.
Pemimpin orkestra menggesek biolanya lebih keras ketika Raka mengajaknya berdansa. Tangannya yang hangat di pinggang Nara terasa asing namun akrab. "Aku baca karya arsitekturmu di Majalah Idea," bisik Nara sambil menghindari tatapannya, "Gedung Bursa Efek itu...indah." Raka tersenyum getir, "Desainnya terinspirasi seseorang yang pernah bilang padaku bahwa langit Jakarta paling cantik dilihat dari ketinggian."
Di tengah tawa dan musik, Nara melihat pantulan diri mereka di kaca jendela—dua siluet yang bergerak selaras. Berbeda dengan tarian kaku bersama Arkana di pesta sebelumnya, saat suaminya lebih sering mengecek ponsel daripada menatap matanya. Raka memeluknya lebih erat ketika Nara hampir tersandung, nafasnya hangat di telinga, "Kamu masih sama...masih ceroboh kalau sedang grogi."
Detak jantungnya berdesir kencang ketika lampu temaram menyorot mereka. Ini salah, bisik suara hatinya, tapi tubuhnya menolak melepaskan genggaman. Dari kejauhan, seorang wanita berbikini magenta mendekati mereka dengan senyum sinis. "Pak Raka, klien dari Singapura sudah datang," ujarnya sambil melirik Nara penuh tanya. Raka menghela nafas, "Maaf, Nar. Aku harus—"
Telepon Nara bergetar ganas di tasnya. "Arkana Pribadi" berkedip di layar. Ia menatap Raka yang sedang berpamitan, lalu mematikan ponselnya. Untuk pertama kali dalam tiga tahun, ia tak mau mendengar suara suaminya.
Di toilet mewah, Nara menatap wajahnya di cermin berbingkai emas. Jejak tangan Raka masih terasa di pinggangnya. Di luar, suara wanita berbikini magenta terdengar jelas, "Dia istri Arkana kan? Yang suaminya lagi urusin kasus korupsi kita?" Nara menekan pintu toilet hingga jarinya memucat. Dunianya berputar ketika suara Raka membalas, "Tak usah bahas itu. Nara...dia spesial."
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.