Sehabis Mencintai, Aku Belajar Melepaskan
Chapter 3: Halaman-Halaman yang Mempertemukan
Perpustakaan Universitas Merdeka menjadi saksi bisu pertemuan mereka yang semakin rutin. Rania sekarang hapal betul jalur menuju sudut favorit Adi di lantai tiga—sebuah ceruk kecil di antara rak-rak buku filsafat abad ke-19, dengan dua kursi kayu tua yang permukaannya sudah mengilap karena sering dipakai. Di sana, cahaya matahari sore selalu masuk lewat jendela kaca patri, melukis pola-pola warna di lantai marmer.
Aroma kertas, lem, dan sedikit kapur barus memenuhi udara. Rania mencatat bagaimana Adi selalu duduk dengan cara yang sama—kaki disilangkan di bawah kursi, buku diletakkan di pangkuan dengan sampul dibuka 180 derajat sempurna untuk tidak merusak binding. Tangannya yang ramping dengan urat-urat halus menari di tepi halaman, sesekali berhenti untuk menunjuk suatu kalimat yang ingin dia bagikan.
"Dengarkan ini," bisiknya suatu sore, suaranya bergetar pelan. "'Cinta adalah ruang, adalah waktu, dibuat kasatmata untuk hati melalui kebahagiaan kecil dan penderitaan.' Ini dari Grass, tahun 1963." Napasnya hangat menyentuh daun telinga Rania yang tiba-tiba terasa panas.
Mereka sering kehilangan beberapa jam seperti itu—terkubur dalam dunia kata-kata, kadang berdebat tentang metafora, lebih sering berdiam diri dalam pemahaman yang sama. Rania mulai mengenali ritual kecil Adi: cara dia selalu mengelap sampul buku dengan ujung baju sebelum membuka, kebiasaannya menggigit pensil kayu ketika konsentrasi, atau gerakan refleks merapikan rambut yang jatuh di dahi setiap kali angin dari AC menyentuh mereka.
Suatu hari hujan, mereka menemukan diri mereka terjebak di antara rak-rak buku langka. Udara lembap membuat kertas-kertas tua mengeluarkan aroma lebih tajam. "Pernah dengar tentang fenomena ini?" Adi membisikkan, jarinya menelusuri punggung buku-buku tua. "Di kelembapan tertentu, senyawa dalam kertas akan terurai, mengeluarkan—"
"—bau vanila tua," Rania menyelesaikan kalimatnya, membuat Adi tertegun. "Aku baca di jurnal kimia minggu lalu," tambahnya sambil tersipu, menyadari betapa dekat wajah mereka sekarang.
Diam yang jatuh kemudian berbeda—lebih berat, lebih bernada. Rania bisa merasakan detak jantungnya sendiri, atau mungkin itu detak jantung Adi? Di ruang sempit antara rak buku itu, jarak 30 cm antara mereka tiba-taku terasa seperti jurang yang harus diseberangi. Adi mengeluarkan saputangan katun dari saku celananya—selalu membawa yang bersih, Rania mencatat—dan dengan gerakan hati-hati menyeka tetesan air dari rambut Rania.
Pegangan tangannya yang awalnya mantap mulai goyah ketika jari-jari mereka tidak sengaja bersentuhan. Musik klasik dari speaker perpustakaan yang biasanya memainkan komposisi Mozart atau Bach tiba-taku berganti menjadi karya Debussy—'Reverie'. Adi tersentak, matanya terbuka lebar. "Ini... ayahku..." Nafasnya tersendat.
Rania tanpa berpikir meraih tangannya, merasakan getaran halus yang mengalir dari tubuh Adi. Di bawah pencahayaan redup lampu tua, dia melihat sesuatu yang belum pernah dilihat sebelumnya—air mata perlahan menggenang di sudut mata Adi, memantulkan cahaya seperti kristal. "Dia selalu memainkan ini ketika aku tidak bisa tidur," Adi berbisik, suaranya pecah.
Di lantai tiga perpustakaan yang sepi itu, di antara ribuan buku yang menyimpan jutaan kisah orang lain, mereka duduk berpegangan tangan, membiarkan alunan piano menyatukan luka-luka lama dengan harapan-harapan baru. Bau buku tua, aroma hujan yang menyusup melalui jendela, dan sedikit wangi sabun cuci tangan Adi bercampur menjadi memori yang akan selalu melekat dalam benak Rania.
Ketika langit mulai gelap, petugas perpustakaan datang untuk mengusir mereka pulang. Adi berdiri dengan enggan, tangannya masih memegang erat Rania. "Terima kasih," ucapnya pelan sambil matanya mencari-cari sesuatu di wajah Rania—mungkin keberanian, mungkin pengertian. "Untuk semuanya."
Di tangga marmer yang berkelok-kelok, bayangan mereka terjalin di dinding yang dicat kuning pucat. Jari-jari mereka sesekali bersenggolan, menyampaikan lebih banyak daripada kata-kata yang bisa diucapkan. Bau tanah basah dari taman kampus menyambut mereka di pintu keluar, membawa janji hujan yang belum usai—seperti perasaan-perasaan yang mulai tumbuh di antara mereka, masih rapuh namun penuh harap.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.