Angka yang Sah
Chapter 1: Hitam Putih Nilai
Kepulan debu dari jalan berkerikil menyambut Renata ketika turun dari taksi. Dia berdiri tegap, menyesuaikan tali ransel di pundak sambil matanya memindai kompleks kampus yang membentang bak kota kecil. Gedung-gedung beton abu-abu tersusun paralel seperti barisan prajurit, tiap jendelanya berderet dalam presisi geometris yang hampir menakutkan. Di kejauhan, jam dinding bundar di menara administrasi menunjuk tepat pukul tujuh pagi.
"Selamat datang di Keadilan Akademis," bisiknya menirukan slogan di papan nama gerbang kampus. Tangannya merogoh ponsel untuk memastikan jadwal kuliah hari pertama. Pengantar Filsafat Ilmu. Ruang A301. Pukul 07.30. Langkahnya berderap mengikuti garis kuning di trotoar yang membelah halaman berumput hijau tanpa cacat.
Dia melewati dua petugas kebun yang sedang memangkas semak hingga membentuk kotak sempurna. Salah satunya meliriknya sekilas sebelum kembali fokus pada gunting taman. Ada sesuatu tentang cara mereka bekerja—tubuh tidak bergerak berlebihan, alis tak berkerut—yang membuat Renata menarik napas dalam. Rasanya seperti berjalan di lingkungan yang diatur oleh algoritma tak terlihat.
Ruangan A301 ternyata lebih kecil dari yang dibayangkan. Meja-kursi kayu berwarna coklat tua tersusun dalam bentuk U menghadap papan tulis putih. Renata memilih tempat di baris kedua dekat jendela, mengeluarkan buku catatan bergaris dan tiga pena warna berbeda dari tasnya. Sebelum memasang jam tangan di pergelangan, dia mengatur posisinya hingga tepat sejajar dengan tulang pergelangan.
"Senang melihat mahasiswa datang tepat waktu," suara itu muncul tiba-tiba dari pintu, tenor rendah namun memotong udara seperti belati. Laki-laki berjas abu-abu dengan kacamata bingkai hitam masuk dengan langkah terukur. "Di kelas ini, ketepatan adalah penghormatan pada proses intelektual."
Tanpa basa-basi, Pak Wisnu—menurut tulisan rapi di sudut papan tulis—memulai kuliah tentang objektivitas pengetahuan. Jarinya yang ramping menari di udara saat menjelaskan konsep peer review, tekanan suaranya tidak pernah turun atau naik secara dramatis. Renata mencatat frasa-frasa kunci dengan tinta biru, garis bawah merah untuk poin penting, hijau untuk contoh konseptual.
"Tidak ada ruang untuk nepotisme atau kedekatan personal dalam penilaian di sini," ujarnya suatu ketika, mata tersembunyi di balik pantulan cahaya pada lensa kacamatanya. "Yang menentukan hanyalah kualitas kerja intelektual Anda. Titik."
Saat jam menunjukkan pukul sembilan tepat, Pak Wisnu menghentikan kalimat di tengah-tengah sekalipun belum selesai. "Kita lanjutkan Rabu depan," katanya sebelum berpaling ke papan tulis dan menghapus semua tulisan rapi yang baru saja dibuat.
Sepanjang hari, ritme serupa berulang di kelas-kelas lain. Dosen-dosen muncul dan pergi sesuai jadwal ketat, materi diajarkan dengan kejelasan hampir mekanis. Ketika Renata bertanya pada asisten laboratorium tentang kriteria penilaian praktikum, jawabannya selalu dimulai dengan: "Sesuai buku panduan halaman..."
Sunyi perpustakaan di penghujung hari membuatnya nyaman. Renata mengelilingi rak-rak buku yang diatur berdasarkan sistem Dewey dengan label bertuliskan kode angka. Jarinya menelusuri punggung buku-buku filsafat saat tiba-tiba terdengar suara langkah di lorong sepi. Dua mahasiswa lewat dengan berbisik-bisik.
"...nilai A itu cuma mitos, kecuali kau punya akses ke bank soal..."
Renata membeku. Sebelum dapat memproses lebih jauh, salah satu dari mereka melihatnya dan seketika menghentikan percakapan. Mereka berjalan cepat menjauh, meninggalkannya sendiri di antara ribuan buku bersampul coklat.
Di toilet wanita lantai dua, setelah hari kuliah usai, dia menemukan coretan pulpen di dinding bilik. Tulisan itu berbunyi: nilaimu menentukan nasibmu. Tanpa berpikir, Renata mengeluarkan cairan pembersih dari tas dan menggosoknya hingga bersih. Keringat dingin menggelitik tengkuk padahal AC menyemburkan udara dingin.
Ketika hari mulai gelap, Renata berdiri di halte bis tepat di luar gerbang kampus. Matanya menatap menara administrasi yang kini diterangi lampu neon. Angka tujuh pada jam besar menyala kuning pucat di kejauhan. Tiba-tiba dia menyadari bahwa seluruh sistem pendidikan ini dijalankan oleh sesuatu yang lebih tua dan lebih besar dari dirinya—sebuah mesin raksasa yang menggilas segala ketidakteraturan.
Di saku jaketnya, buku kecil berisi jadwal belajar berjam-jam yang sudah direncanakan minggu lalu terasa menusuk. Angka-angka di sana kini tampak seperti kode rahasia yang perlu dipecahkan, bukan sekadar penanda waktu. Dia menarik napas ketika bis datang, dan bayangannya yang panjang terpotong cahaya lampu kabin menyisakan siluet tanpa wajah di aspal.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.