delete
Chapter 2: Keinginan yang Menggebu
Hari-hari setelah pijat pertama, hasratku semakin menggebu. Setiap kali bercinta dengan Rini, aku selalu memintanya menceritakan kembali pengalaman saat pria lain menyentuh tubuhnya. Rini awalnya malu-malu menceritakannya, tapi lama kelamaan ia mulai terbuka.
"Enak banget mas, sensasi disentuh pria lain itu beda. Ada perasaan aneh, takut, tapi juga nikmat," cerita Rini sambil memerah.
"Terus kalau dioral sama terapisnya gimana sayang?" tanyaku penasaran.
"Wah mas, awalnya aku menolak. Tapi dia terus menggodaku sampai akhirnya aku pasrah. Saat lidahnya menjelajahi memekku, aku sampai melayang rasanya," ujar Rini makin berani.
Aku semakin terangsang mendengar pengakuan Rini. Tanpa aba-aba, kudorong tubuhnya ke ranjang dan kusetubuhi dengan ganas. Rini pun membalas ciumanku dengan penuh nafsu.
"Kamu mau lagi nggak din disentuh pria lain?" tanyaku di sela-sela permainan.
Rini mengangguk ragu. "Mau mas, tapi pake pengaman ya. Aku takut hamil lagi," pintanya.
Aku tersenyum licik. "Yakin mau pake pengaman? Soalnya kamu kan nggak suka kalo pas lagi enak-enaknya harus berhenti gara-gara mau pasang kondom," godaku.
Rini diam. Aku tahu ia bimbang. Tapi aku yakin akhirnya ia akan menuruti kemauanku lagi. Karena Rini mencintaiku.
Esoknya aku kembali mencari terapis pijat sensual di internet. Kali ini aku sengaja mencari yang berbeda agar tak ada perasaan di antara mereka. Kupilih seorang pria muda, tampan dan berpengalaman.
Aku segera menghubunginya dan memesan jasa pijat untuk Rini di rumah. Dengan hati-hati kurencanakan agar Rini tak curiga. Kupikir ini akan menjadi pengalaman baru yang lebih menggairahkan bagi kami berdua.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.