delete

Chapter 3: Pijat Sensual Kedua

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Rini dan aku kembali datang ke tempat pijat sensual langganan kami. Berbeda dengan pertama kali, kini Rini terlihat lebih percaya diri dan santai. Saat memasuki ruangan, Rini langsung melepas seluruh pakaiannya tanpa malu-malu lagi. Ia berbaring telentang di atas ranjang pijat dengan tubuh telanjang yang menggairahkan.

Terapis pria yang kemarin kembali memijat Rini dengan tangan-tangannya yang terampil. Ia mulai memijat dari punggung, lalu turun ke pantat dan paha Rini. Sesekali tangannya menyentuh area sensitif seperti payudara dan memek Rini yang membuatku terangsang melihatnya.

Tanpa malu-malu lagi, terapis mulai merangsang Rini dengan memainkan jari-jarinya di memek istriku. Rini mendesah keenakan saat jarinya mengocok lubang memeknya. Cairan birahi mulai merembes keluar membasahi jari terapis.

Kontolku yang sudah tegang sejak tadi semakin mengeras melihat adegan panas itu. Terapis lalu menggesek-gesekkan kontolnya ke memek Rini. Rini awalnya menolak, tapi akhirnya pasrah juga saat terapis terus menggodanya.

"Aku mau pakai kondom ya mas, aku nggak mau hamil sama orang lain dan takut kena penyakit," kata Rini tegas pada terapis.

"Baik bu, saya mengerti," jawab terapis sambil mengambil kondom dari saku celananya.

Dengan hati-hati, terapis memasang kondom di kontolnya yang sudah menegang. Lalu ia mulai menindih tubuh telanjang Rini dan mengarahkan kontolnya ke memek istriku.

"Aahh.." Rini mendesah saat kontol terapis mulai menerobos masuk ke dalam memeknya.

Dengan perlahan, terapis mulai menggenjot memek Rini. Rini membalas dengan menggoyang-goyangkan pinggulnya mengikuti irama terapis. Desahan dan erangan nikmat keluar dari mulut mereka berdua.

Aku hanya bisa terpana melihat istriku disetubuhi pria lain di depan mataku sendiri. Cemburu dan nafsu bercampur aduk menjadi satu. Kontolku semakin mengeras hingga akhirnya aku mengocoknya sendiri sambil menonton adegan panas itu.

Terapis dan Rini berganti-ganti posisi. Mulai dari konvensional, WOT, hingga doggy style mereka coba. Rini beberapa kali mencapai orgasme hingga tubuhnya lemas tak berdaya.

"Memek ibu enak banget, walau pake kondom tetap sempit, tembem, dan menjepit. Idaman banget," puji terapis pada Rini.

"Ahh.. terus mas.. puas-puasin memek saya.." desah Rini keenakan.

Permainan panas itu berlangsung cukup lama hingga akhirnya terapis mencabut kontolnya dari memek Rini. Ia melepas kondom dan mengocok kontolnya sendiri hingga muncratkan sperma di perut Rini.

"Ronde ketiga nggak pake kondom ya bu, pasti lebih enak ngerasain jepitan memek tembem ibu," rayu terapis.

Rini hanya tersenyum malu mendengar rayuan terapis. Aku pun hanya bisa terdiam melihat pemandangan itu. Malam ini benar-benar penuh gairah dan kenikmatan yang tak terlupakan.

Rekomendasi Novel

Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.

delete lagi

delete

Baca

Ketika Bertahan Tak Lagi Bernama Cinta

Raka dan Alena adalah pasangan lama yang bertahan bukan karena bahagia, melainkan karena takut kehilangan. Di balik hubu...

Baca

CEO yang belajar Melihat Dari Gadis Buta

seorang CEO muda yang sukses namun dingin Dan tertutup akibat penghianatan di masa lalunya. hidupnya berubah ketika bert...

Baca

le

harus bisa

Baca

Saat Bosan Mengajarkan Penghianatan

Alya dan Raka adalah pasangan SMA yang terlihat sempurna, namun kebosanan perlahan menggerogoti hubungan mereka. Saat pe...

Baca
Her Eyes on Me

Her Eyes on Me

pertemuan ttidak sengaja seorang laki-laki denganku di sebuah hotel untuk kegiatan kementerian. Laki-laki itu menaruh ra...

Baca

Ketika Janji Menjadi sebuah Rahasia

Pernikahan yang terlihat utuh perlahan retak saat kesepian membuka pintu bagi masa lalu. Di antara janji yang diucapkan...

Baca

Si Bodoh yang Jenius

Jojo, cowok pintar yang sombong, awalnya menertawakan Maria, siswi baru cantik keturunan Chinese yang bodoh dalam pelaja...

Baca

Lolongan Terakhir di Hutan Kelam

Di sebuah desa terpencil dekat hutan, serangkaian kematian brutal terjadi. Hewan ternak dan manusia ditemukan tewas deng...

Baca