Obsesiku terhadap istriku, eh malah ......
Chapter 4: Pijat Terapis Pria
Keringat masih membasahi tubuh kami yang terbaring lemas di atas ranjang. Nafas kami terengah-engah setelah pertempuran malam ini. Aku menatap wajah istriku yang memerah, bibirnya yang merekah masih terlihat sensual. Tanganku mengusap rambutnya yang acak-acakan akibat permainan kami tadi.
Istriku membalas tatapanku dengan senyuman malu-malu. Tangannya yang halus mengusap dadaku yang bidang. "Mas, kamu kok malam ini aneh banget sih. Dari tadi ngomongnya melulu tentang aku sama cowok lain," ucapnya pelan.
Aku tersenyum licik. "Iya sayang, aku cuma ngebayangin aja kok. Gimana rasanya kalo nanti kamu dientot sama pria lain di depan mataku. Pasti seru banget kan?" godaku.
Wajah istriku langsung berubah merah padam. "Mas, jangan gitu dong. Aneh tau. Nanti orang mikir macem-macem," tolaknya.
Aku menggeleng. "Ah santai aja sayang. Aku cuma ngebayangin kok. Lagian siapa juga yang bakal mau sama kamu. Kamu kan udah punya suami."
Istriku mencubit lenganku pelan. "Mas, jangan gitu dong. Nanti aku beneran marah lho."
Aku tertawa kecil. "Iya-iya, becanda kok. Tapi serius deh, gimana kalo kita coba pijat aja yuk. Siapa tahu malah tambah mesra kita."
Istriku mengernyitkan dahi. "Pijat? Maksud kamu?"
Aku mengangguk. "Iya, pijat. Tapi bukan pijat biasa. Pijat plus-plus gitu lho."
Wajah istriku berubah waspada. "Plus-plus? Maksud kamu?"
Aku mendekatkan wajahku ke telinganya. "Pijat sama terapis cowok. Terus dia yang pegang badan kamu. Kamu yang telanjang. Seru kan?" bisikku.
Istriku langsung menepis tubuhku. "Hah? Kamu bener-bener aneh deh Mas. Ngajak aku pijat sama cowok lagi. Mau aku selingkuh sama dia?" bentaknya.
Aku buru-buru menggeleng. "Enggak sayang. Aku cuma pengen liat kamu dinikmati sama cowok lain. Aku yang suruh kok. Jadi enggak ada selingkuh-selingkuhnya."
Istriku menatapku tajam. "Kamu serius mau aku pijat sama cowok?"
Aku mengangguk mantap. "Iya sayang. Aku serius. Aku pengen banget liat kamu dinikmati sama cowok lain. Kayak di film-film gitu lho."
Istriku menghela nafas. "Mas, kamu sadar enggak sih. Itu namanya selingkuh. Aku kan istri kamu. Enggak pantes aku disentuh sama cowok lain."
Aku menggeleng. "Enggak sayang. Kan aku yang suruh. Jadi aku yang menikmati. Kamu cuma menuruti kemauan aku. Enggak ada selingkuhnya."
Istriku diam merenung. Aku bisa melihat bimbang di wajahnya. Ada rasa penasaran, tapi juga rasa khawatir.
"Kamu yakin sayang? Aku enggak mau nanti malah bikin masalah. Apalagi sampai bikin kamu cemburu," ucapnya hati-hati.
Aku tersenyum menenangkan. "Tenang aja sayang. Aku janji enggak bakal cemburu. Malah aku yang excited banget lho. Udah lama banget aku pengen liat kamu dinikmati sama cowok lain."
Istriku masih ragu. "Tapi Mas, aku takut nanti malah ketagihan. Atau malah jatuh cinta sama cowok itu."
Aku menggeleng. "Enggak sayang. Kamu kan cuma menuruti kemauan aku. Kamu enggak bakal jatuh cinta sama cowok itu. Lagian nanti kita juga cuma sekali ini aja. Habis itu udah enggak lagi."
Istriku menghela nafas panjang. "Tapi Mas, aku takut nanti malah ketahuan orang. Nanti malah jadi skandal."
Aku tersenyum licik. "Tenang aja sayang. Nanti aku yang atur semuanya. Kita cuma pijat biasa. Enggak bakal ada yang tahu."
Istriku masih bimbang. Aku bisa melihat dia mulai goyah. Ada rasa penasaran yang mulai muncul.
"Aku janji sayang, ini cuma sekali aja. Habis itu udah enggak lagi. Kamu mau kan?" rayuku.
Istriku mengangguk perlahan. "Hmm... aku mau. Tapi dengan syarat."
Aku mengangguk antusias. "Syarat apa sayang? Apa aja deh."
Istriku menatapku tajam. "Pertama, cowoknya harus cakep dan bersih. Enggak boleh yang aneh-aneh. Kedua, kalau aku enggak nyaman, kita stop ya. Enggak usah dilanjutkan. Ketiga, cowoknya harus pake kondom. Enggak boleh nyentuh langsung."
Aku mengangguk mantap. "Iya sayang. Aku janji. Semuanya akan aku atur. Kamu tenang aja."
Istriku menghela nafas. "Hmm... baiklah. Aku mau. Tapi ingat ya, cuma sekali ini aja. Habis itu udah enggak lagi."
Aku tersenyum lebar. "Iya sayang. Aku janji. Makasih ya udah mau nurutin kemauan aku."
Istriku memukul lenganku pelan. "Dasar Mas aneh. Udah malam nih. Besok kita omongin lagi ya."
Aku mengangguk. "Iya sayang. Makasih ya. Kamu cantik banget sih. Aku sayang banget sama kamu."
Istriku tersenyum malu. "Iya Mas. Aku juga sayang sama kamu."
Kami pun berpelukan mesra. Malam itu, aku tidur dengan perasaan bahagia. Besok, fantasi terliar ku akan menjadi kenyataan.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.