Obsesiku terhadap istriku, eh malah ......
Chapter 5: Pijatan Sensual
Aku tersenyum melihat wajah istriku yang memerah. Tanganku mengusap pipinya yang merona. "Sayang, aku cuma bercanda kok. Kamu kan cantik banget, pasti banyak yang naksir. Gimana rasanya kalo nanti ada pria lain yang ngelirik kamu? Seru kan?" godaku.
Istriku menggeleng pelan. "Ah mas, jangan gitu dong. Nanti aku malu." ucapnya malu-malu.
Aku mengangguk mengerti. Tapi di dalam hati, fantasiku semakin menggebu. Aku ingin melihat istriku bercumbu dengan pria lain. Rasanya akan sangat menggairahkan.
Kemudian aku tersenyum licik. "Tapi sayang, aku punya ide nih. Gimana kalo kita coba pijat sensual aja? Kan lumayan kan buat relaksasi juga." usulku.
Wajah istriku langsung berubah penasaran. "Pijat sensual? Maksud mas?" tanyanya.
Aku mengangguk. "Iya, pijat khusus buat pasangan suami istri. Biasanya sih sama terapis cowok. Tapi nggak apa-apa kan? Toh cuma pijat doang."
Istriku mengangguk pelan. "Hmm... boleh juga tuh. Tapi nanti yang pijat siapa ya?" tanyanya penasaran.
Aku tersenyum puas. "Nanti aku cari tau dulu. Yang penting kamu mau kan sayang?" pintaku.
Istriku tersenyum malu. "Iya deh, asal mas yang nyariin ya. Aku percaya sama mas."
Aku langsung bersemangat. "Okedeh, besok aku cari tau tempat pijat sensual yang bagus. Kamu siap-siap aja ya."
Esoknya, aku mencari informasi tentang pijat sensual di internet. Akhirnya aku menemukan sebuah tempat pijat khusus pasutri di daerah Jakarta Selatan. Di sana, terapis cowoknya cakep-cakep dan profesional.
Aku langsung memesankan satu paket pijat sensual untuk istriku. Karena ini pertama kali, aku memilih paket 2 jam. Lumayan mahal memang, tapi demi memuaskan fantasiku, aku rela merogoh kocek dalam-dalam.
Malam harinya, aku memberi tahu istriku tentang pijat sensual besok. Dia tampak antusias dan penasaran. "Serius mas? Aku beneran mau dipijat sama cowok ganteng nanti?" tanyanya.
Aku mengangguk mantap. "Iya sayang, besok kamu akan merasakan sensasi pijat yang luar biasa. Dijamin nagih deh." godaku.
Istriku tersenyum malu. "Yaudah deh kalo gitu. Aku nurut aja sama mas."
Keesokan harinya, kami berangkat ke tempat pijat sensual yang sudah kupesan. Sesampainya di sana, aku disambut ramah oleh seorang cowok ganteng berotot yang ternyata adalah terapisnya.
"Selamat siang pak, silakan masuk. Ini ada mba cantiknya ya?" sapa terapis itu ramah.
Aku mengangguk. "Iya mas, ini istri saya. Kami mau coba pijat sensual 2 jam."
"Oh, silakan masuk ke ruangan sana. Nanti mba-nya saya minta ganti baju dulu ya."
Aku mengangguk. Istriku tampak gugup tapi juga penasaran. Kami dipersilakan masuk ke ruangan pijat yang cukup luas dan nyaman.
Di sana sudah tersedia meja pijat dan perlengkapan lainnya. Istriku diminta berganti baju dengan pakaian khusus pijat yang sudah disediakan.
"Mas, aku deg-degan nih. Gimana ya nanti pas dipijat sama cowok ganteng?" bisik istriku gugup.
Aku tersenyum menenangkan. "Tenang aja sayang, nanti juga enak kok. Anggap aja ini buat relaksasi kita."
Istriku mengangguk pelan. Dia lalu pergi ke kamar ganti yang tersedia. Beberapa menit kemudian, istriku keluar dengan mengenakan pakaian pijat berwarna pink yang seksi.
Pakaian itu berupa tanktop ketat yang memperlihatkan belahan dadanya dan celana pendek mini yang memamerkan paha mulusnya. Sungguh pemandangan yang menggairahkan.
"Mas, aku malu nih pake baju seksi gini." bisik istriku malu-malu.
Aku tersenyum puas. "Nggak apa-apa sayang, kan cuma buat dipijat. Lagian kamu kan cantik banget pake baju seksi." godaku.
Istriku tersenyum malu. Dia lalu naik ke atas meja pijat dan tiduran tengkurap. Aku duduk di kursi yang tersedia untuk menonton aksi pijat sensual nanti.
Tidak lama kemudian, terapis cowok tadi masuk ke ruangan. Dia membawa perlengkapan pijat dan handuk.
"Selamat siang mba, saya Rio. Silakan tengkurap ya." sapanya ramah.
Istriku mengangguk pelan. Dia lalu tengkurap di atas meja pijat. Rio mulai menuangkan minyak pijat ke telapak tangannya.
"Pijatnya saya mulai ya mba." ucapnya.
Istriku hanya mengangguk. Rio mulai memijat punggung dan bahu istriku dengan lembut. Jemarinya yang terampil mengusap dan meremas otot-otot istriku yang tegang.
Istriku tampak menikmati pijatan Rio. Sesekali dia mendesah kecil saat Rio menekan titik-titik pegal di punggungnya.
Aku duduk menonton adegan itu dengan hati berdebar. Melihat tangan terapis cowok itu mengusap tubuh istriku sungguh menggairahkan. Apalagi pakaian istriku yang seksi memperlihatkan belahan dadanya yang montok.
Rio terus memijat punggung dan bahu istriku dengan telaten. Sesekali dia menurunkan pijatannya ke pinggang dan pantat istriku yang padat berisi.
Istriku tampak menikmati setiap sentuhan Rio. Matanya terpejam menikmati pijatan sensual itu. Desahan nikmat terdengar dari mulutnya.
Rio lalu menyuruh istriku telentang. Istriku menurut dan telentang di atas meja pijat. Kini belahan dadanya yang montok terekspos jelas.
Rio mulai memijat bagian depan tubuh istriku. Dia mengusap lembut leher dan pundak istriku. Lalu turun ke arah dada.
Jemari Rio mulai memijat dan meremas lembut payudara istriku yang terbungkus tanktop tipis. Istriku tampak menikmati sentuhan itu.
"Hmm... aahhh..." desahnya pelan.
Rio tersenyum puas melihat reaksi istriku. Dia lalu meremas dan memilin puting susu istriku yang sudah mengeras.
"Aaahhh... enaakkk..." desah istriku kian keras.
Aku yang menonton dari kursi tampak terangsang melihat adegan itu. Kontolku mulai menegang di balik celanaku.
Rio lalu menurunkan tanktop istriku sehingga payudaranya yang putih mulus terpampang jelas. Dia mulai menjilati dan menyedot puting susu istriku bergantian.
"Ooohhhh... mas Rio... aaahhhh..." desah istriku tak karuan.
Aku semakin terangsang melihat adegan itu. Aku tak menyangka istriku akan menikmati pijatan sensual itu.
Rio lalu membuka celana pendek istriku dan mulai memijat paha dan betisnya. Jemarinya yang terampil mengusap paha mulus istriku.
Lalu dia mulai memijat daerah kewanitaan istriku yang tertutup celana dalam tipis. Istriku tampak menggelinjang keenakan.
"Aaahhh... mas Rio... jangan di situ... aaahhhh..." desahnya.
Tapi Rio sepertinya sudah terbawa nafsu. Dia lalu membuka celana dalam istriku dan mulai memainkan memek istriku dengan jari-jari lentiknya.
"Ooohhhh... mas... jangan... aaahhhh..." istriku mendesah tak karuan.
Aku yang menonton dari kursi semakin terangsang. Kontolku sudah menegang maksimal di balik celanaku.
Rio lalu menjilati dan menyedot memek istriku dengan rakus. Istriku tampak menggelinjang hebat menahan nikmat.
"Aaahhhh... mas Rio... aku... aku... mau... keluar... aaahhhh..." desahnya tak karuan.
Tidak lama kemudian, tubuh istriku mengejang hebat. Dia seperti mencapai klimaks yang luar biasa.
"Ooohhhh... aku... keluar... mas... aaahhhh..." racau istriku tak karuan.
Rio tersenyum puas melihat reaksi istriku. Dia lalu mengelap cairan memek istriku dengan handuk.
"Sudah selesai mba, bagaimana? Enak kan dipijat sama saya?" tanyanya.
Istriku hanya bisa mengangguk lemah. Wajahnya memerah dan nafasnya terengah-engah.
Aku yang menonton dari kursi juga terengah-engah. Kontolku sudah menegang maksimal dan ingin rasanya aku segera menyetubuhi istriku.
"Mas, aku capek banget. Tapi kok rasanya enak banget ya dipijat sama mas Rio?" bisik istriku lemas.
Aku tersenyum puas. "Hehe... kan aku bilang, pijat sensual itu enak banget. Kamu suka kan sayang?" godaku.
Istriku mengangguk malu. "Iya mas, aku suka banget. Tapi kok aku jadi ketagihan ya?" ucapnya.
Aku tersenyum licik. "Hehe... nggak apa-apa sayang. Kan tinggal pesen lagi kapan-kapan. Yang penting kamu senang."
Istriku tersenyum malu. Dia lalu bangkit dari meja pijat dan mengenakan kembali pakaiannya yang tadi.
Rio tersenyum puas melihat reaksi istriku. Dia lalu mengucapkan terima kasih dan permisi meninggalkan ruangan.
Kami pun beranjak pulang dengan perasaan puas. Di perjalanan, istriku tampak melamun.
"Mas, gimana ya rasanya kalo nanti aku beneran dientot sama pria lain di depan mata mas?" tanyanya penasaran.
Aku tersenyum licik. "Hehe... pasti seru banget sayang. Kamu mau kan nanti nyoba?" godaku.
Istriku tersenyum malu. "Hmm... boleh juga tuh kalo gitu. Asal mas yang nyariin prianya ya."
Aku mengangguk mantap. "Okedeh, nanti akan kucarikan pria yang cocok buat nyoba sama kamu. Yang penting kamu mau kan sayang?"
Istriku mengangguk mantap. "Iya mas, aku mau kok. Asal mas yang ngatur semuanya."
Aku tersenyum puas. Fantasiku untuk melihat istriku bercumbu dengan pria lain semakin dekat dengan kenyataan.
Kami pulang dengan perasaan puas dan penuh antusiasme. Tidak sabar rasanya menantikan petualangan liar selanjutnya.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.