Omega's Revenge
Chapter 1: Cahaya yang Menyiksa
Sean selalu terbangun bersama matahari. Bukan karena ia punya alarm, tapi karena cahaya pagi yang menembus jendela kamarnya kecil di desa terpencil itu selalu menyentuh wajahnya seperti pelukan hangat. Ia membuka mata, menarik napas dalam-dalam, dan tersenyum. Udara pagi di desanya masih bersih, masih murni—berbau tanah basah dan bunga melati yang tumbuh liar di sepanjang jalan setapak menuju rumahnya.
Sean tumbuh besar di sebuah desa kecil bernama Karang Melati, sebuah tempat yang nyaris tidak pernah terlihat oleh dunia luar. Desa itu tersembunyi di balik perbukitan hijau, dikelilingi hutan rimba yang lebat, dan disinggahi sungai jernih yang jernih sekali hingga seseorang bisa melihat ikan-ikan kecil berenang di dasarnya. Di sinilah Sean menjalani hidupnya—sederhana, tenang, dan penuh kebahagiaan.
Sejak kecil, Sean berbeda dari anak-anak lain di desanya. Bukan karena ia lebih kaya atau lebih pintar, tapi karena sesuatu yang sulit dijelaskan. Wajahnya memiliki sebuah keindahan yang hampir mustahil digambarkan. Matanya seperti lautan dalam yang berwarna hijau zamrud, rambutnya hitam legam berkilau seperti sutra, dan kulitnya bersih serta berseri seolah disentuh cahaya bulan. Tapi yang paling menakjubkan adalah senyumnya. Ketika Sean tersenyum, seolah seluruh dunia ikut bersinar. Orang-orang yang melihatnya sering terdiam, terpaku, seolah sedang melihat sesuatu yang bukan milik dunia fana.
Namun Sean tidak pernah menyadari bahwa keindahan itu adalah berkah sekaligus kutukan. Ia hanya tahu bahwa ia berbeda, dan ia menerimanya dengan hati terbuka.
Setiap pagi, Sean berjalan kaki ke pasar desa untuk membantu ibunya menjual buah-buahan dan sayuran segar. Ibunya, Wanita, adalah seorang perempuan kuat yang kehilangan suaminya saat Sean masih bayi. Meskipun hidupnya berat, Wanita selalu tersenyum dan mengajarkan Sean bahwa kebahagiaan sejati tidak pernah datang dari harta atau kemewahan, melainkan dari rasa syukur atas apa yang dimiliki.
"Sean, jangan pernah merasa rendah diri karena kita tidak punya banyak," kata Wanita setiap kali mereka berpisah di depan gerai pasar kecil mereka. "Kekayaan sejati ada di dalam hati."
Sean selalu mengangguk patuh. Ia mencintai ibunya lebih dari apa pun di dunia. Ia mencintai desanya, teman-temannya, dan kehidupan sederhananya. Ia tidak pernah meminta lebih.
Di sekolah desa kecil itu, Sean dikenal sebagai anak yang pemalu tapi baik hati. Ia tidak pernah memamerkan wajahnya yang indah, tidak pernah membuat orang lain merasa tidak berharga karena penampilan. Ia hanya menjadi dirinya sendiri—tenang, rendah hati, dan penuh kasih sayang. Teman-temannya menyukainya bukan karena penampilannya, tapi karena sikapnya yang tulus dan selalu siap membantu.
Namun, ada satu hal yang selalu mengganggu Sean. Sering kali, ketika ia berjalan melewati desa, orang-orang menatapnya terlalu lama. Bukan tatapan ramah, tapi tatapan yang penuh hasrat, iri, dan terkadang ketakutan. Sean tidak memahami mengapa. Baginya, ia hanyalah seorang anak desa yang biasa saja.
Suatu sore, saat Sean sedang duduk di tepi sungai sambil memandang air jernih yang mengalir, seorang tetua desa bernama Pak Tua mendekatinya. Wajah Pak Tua terlihat serius, dan matanya yang keriput menatap Sean dengan campuran kagum dan khawatir.
"Sean, duduk," kata Pak Tua pelan, menunjuk tanah di sampingnya.
Sean menurut. Ia duduk dengan kaki menjuntai ke air sungai, merasa dinginnya air menyentuh kakinya.
"Aku tahu kau sering bertanya kenapa orang-orang menatapmu begitu," kata Pak Tua akhirnya, suaranya berat. "Aku akan bicara jujur padamu, Sean. Kau punya sesuatu yang langka. Cahaya di dalam dirimu... itu bukan milik semua orang. Dan di dunia ini, apa yang langka selalu menarik perhatian. Tidak semua perhatian itu baik."
Sean mendengarkan dengan seksama, matanya melebar. Ia belum pernah berpikir demikian tentang dirinya sendiri.
"Apa maksudmu, Pak?" tanya Sean, suaranya kecil.
Pak Tua menghela napas panjang. "Cahaya yang terlalu terang... selalu menarik ngengat. Dan tidak semua ngengat datang untuk menghormati cahaya. Beberapa datang untuk membakarnya."
Sean tidak sepenuhnya memahami kata-kata Pak Tua saat itu. Ia masih terlalu muda untuk memikirkan bahaya yang tersembunyi di balik keindahannya. Ia hanya merasa sedikit cemas, dan sedikit penasaran.
Malam itu, Sean pulang ke rumah dan berbaring di tempat tidurnya yang sederhana. Di luar jendela, bintang-bintang bersinar terang di langit malam yang gelap. Ia memandang langit itu lama, memikirkan kata-kata Pak Tua. Kenapa cahayanya harus menjadi masalah? Kenapa ia tidak bisa sekadar menjadi dirinya sendiri tanpa menimbulkan reaksi dari orang lain?
Sean memejamkan mata, berharap bahwa besok akan menjadi hari yang sama seperti hari-hari sebelumnya—tenang, sederhana, dan bahagia. Ia tidak tahu bahwa dunia di luar desanya sudah mulai bergerak, dan bahwa keindahan yang selalu ia banggakan sedang bersiap untuk mengubah segalanya.
Keesokan harinya, saat Sean berjalan menuju pasar seperti biasa, ia melihat sesuatu yang berbeda. Ada seorang pria asing yang berdiri di ujung desa, mengenakan pakaian yang bukan berasal dari desa mereka. Pria itu memandang Sean dari kejauhan, dan senyumnya lebar—senyum yang tidak terlihat ramah. Senyum itu penuh perhitungan. Penuh ambisi.
Sean merasakan bulu kuduknya berdiri. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa tidak aman. Dan ia tidak tahu bahwa pertemuan kecil itu akan menjadi awal dari semua petaka yang akan menghancurkan kehidupan bahagianya selamanya.
Angin pagi berhembus pelan, membawa bau bunga melati yang biasa ia nikmati setiap hari. Tapi kali ini, bau itu terasa berbeda. Terasa seperti pertanda sesuatu yang buruk akan datang.
Sean melanjutkan langkahnya, tidak menyadari bahwa mata pria asing itu tidak pernah meninggalkan wajahnya. Cahaya keindahan Sean yang selalu bersinar itu, untuk pertama kalinya, telah menarik perhatian seseorang yang tidak datang untuk menghormatinya.
Dan dari situlah semua dimulai.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.