Playlist untuk Kamu
Chapter 1: Tanda Tanya di Balik Headset
Pagi itu sinar matahari menyelinap melalui celah jendela bus sekolah yang bergetar, menerangi debu-debu yang berputar seperti penari kecil. Aira menempelkan keningnya di kaca yang dingin, matanya mengikuti pergerakan pohon-pohon yang seolah berlarian di sepanjang jalan. Bau oli mesin bercampur dengan aroma roti isi dari tas makanannya, menciptakan soundtrack sensorik yang akrab di hari Senin ini.
Dia hampir tak menyadari kehadirannya sampai suatu pagi ketika tas punggungnya nyaris menghantam bahu lelaki itu. Cowok bertubuh tinggi dengan hoodie hitam itu selalu duduk di bangku ketiga dekat pintu darurat, kabel headset hitam menjuntai seperti ular kecil yang menghubungkan telinganya ke dunia lain. Jari-jarinya yang panjang sesekali mengetuk-ngetuk lutut yang menonjol, mengikuti irama yang hanya dia sendiri yang tahu.
Selama dua minggu terakhir, Aira mencatat rutinitas tak terucap mereka: dia naik di halte depan minimarket, sementara cowok itu sudah duduk seperti patung ketika bus tiba di halte kampus. Kulitnya pucat seperti jarang kena matahari, alisnya tebal membentuk sudut tajam yang selalu mengerut. Tapi yang paling membuat Aira penasaran adalah caranya memandang keluar jendela - bukan sekadar melamun, tapi seolah sedang membaca kode rahasia di balik pemandangan kota yang berlalu.
Suatu pagi ketika hujan menciprat-ciprat di kaca, headsetnya sesaat tergelincir. Aira menahan napas ketika melihat daun telinganya yang runcing dan tato kecil berbentuk not balok di belakangnya. Tapi sebelum sempat melihat lebih jelas, tangannya yang bertulang menonjol sudah cepat-cepat menata kembali headset itu ke posisi semula, seolah memagari diri dengan tembok musik yang tak terlihat.
Di tengah riuh rendah obrolan tentang PR matematika dan gosip pertandingan basket, cowok itu seperti pulau kesepian yang dikelilingi lautan kebisingan. Aira mulai menghabiskan waktu perjalanan paginya dengan mengamati pantulan bayangannya di jendela - bagaimana cahaya pagi membelai garis rahangnya yang tajam, atau saat dia menunduk sehingga poni hitamnya jatuh menutupi alis. Ada ratusan pertanyaan yang berputar di kepalanya: musik apa yang dia dengarkan? Mengapa selalu sendiri? Apa makna tato itu?
Ketika bus melewati terowongan, untuk sesaat bayangan mereka menyatu di kaca jendela. Aira tersadar dirinya sudah terlalu lama memperhatikan. Tapi ketika cowok itu tiba-tiba menoleh, matanya yang gelap seperti dua kolam malam yang dalam nyaris membuat Aira terjatuh dari tempat duduknya. Dengan cepat dia pura-pura mengikat tali sepatu, jantung berdebar kencang seperti drum yang dimainkan tidak karuan.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.