Playlist untuk Kamu
Chapter 3: Titik Nada Pertama
Jari-jari Aira menggantung di atas keyboard seperti pendulum yang ragu-ragu. Layar laptop memantulkan bayangan matanya yang berkantung hitam, masih merah karena kurang tidur. Jam digital di pojok layar menunjukkan pukul 3:19 - waktu yang tidak masuk akal untuk memulai proyek semacam ini, tapi justru di saat sepilah ini keberaniannya memuncak.
Dia menyendok sisa matcha latte yang sudah dingin, rasa pahitnya membuat lidahnya bergidik. Spotify terbuka di sebelah kanan, sebelah kiri adalah dokumen catatan berisi lirik-lirik lagu yang selama ini terngiang di kepalanya sejak menemukan playlist itu. Klakson bus malam melengking dari jalanan bawah, mengingatkannya pada perjalanan besok pagi dimana mungkin balasannya sudah bisa diakses.
Lagu pertama yang dia tambahkan adalah 'Burning Pile' oleh Mother Mother. Gitar akustik pembuka yang ceria kontras dengan lirik tentang api yang membara dalam diam. Aira menekan bibir bawahnya sampai memucat, mengingat bagaimana cowok itu selalu membakar rasa penasarannya tanpa sepengetahuan siapapun.
Ketika menambahkan lagu ketiga 'Oblivion' oleh Grimes, jempol kanannya tanpa sadar mengusap tulang belakang sendiri. Vokal Grimes yang seperti datang dari ruang hampa itu menggambarkan bagaimana dia merasa terus diawasi, seolah cowok hoodie itu bisa melihat melalui kulitnya ke dalam tulang-tulangnya yang bergetar.
Pilihan lagu kelima membuatnya tersenyum getir - 'The Less I Know The Better' oleh Tame Impala. Bassline-nya yang catchy bertolak belakang dengan cerita obsesi tak sehat. Aira menggigit penghapus pensil sampai berbentuk gerigi, mengingat-ingat detil tato not balok di belakang telinga cowok itu yang terus menghantuinya seperti hook lagu ini.
Subuh mulai menyingsing ketika dia memutar ulang playlist yang baru saja disusun. 'Silhouettes' oleh Aquilo menggema di kamar sempitnya, menceritakan tentang bayangan-bayangan yang tak pernah menjadi kenyataan. Matanya perih saat menyadari betapa lagu ini cocok menggambarkan cowok hoodie yang selama ini hanya像个siluet di sudut pandangnya.
Tiba-tiba speaker laptop mengeluarkan suara gemeretak. Aira menjerit kecil ketika lagu 'Twist' oleh Korn tiba-tiba muncul di autoplay. Gitar listrik yang distorsi dan vokal yang terdistorsi itu membuat dadanya berdebar. Tanpa sadar dia menambahkan lagu itu juga ke playlist, seakan ingin menunjukkan bahwa dia pun bisa mengejutkan seperti playlist itu mengejutkannya.
Playlist akhirnya berisi 13 lagu ketika embun pagi mulai mengembun di jendela. Aira menamakannya 'To the Shadow at the Backseat', dengan deskripsi satu kalimat: "Kau bukan satu-satunya yang bisa mendengar musik dalam keheningan."
Saat jari telunjuknya melayang di atas tombol publish, napasnya tersangkut. Di luar, suara mesin diesel bus sekolah sudah mulai terdengar. Aira menekan tombol itu dengan mata tertutup, seperti sedang terjun bebas. Laptop ditutup kasar, jantungnya berdetak mengikuti irama lagu terakhir yang dia pilih - 'Heartbeat' oleh Childish Gambino, tentang denyut yang tak terkendali ketika berhadapan dengan sesuatu yang menggugah sekaligus mengancam.
Ketika berjalan menuju halte, telinganya mendengar sesuatu yang tak biasa - alunan musik samar dari bangku belakang. Aira tidak menengok, tapi senyum kecil mengembang di sudut bibirnya. Perlahan, dia memasang earphone dan memutar playlist barunya, membiarkan bassnya berdentum sampai ke tulang rusuk, seakan ingin mengatakan: Aku di sini. Aku mendengar. Aku merespons.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.