Playlist untuk Kamu
Chapter 5: Harmoni Tak Terucap
Dentuman bass dari lagu ‘The Sound of Silence’ versi Disturbed menggetarkan tulang selangka Aira, suara David Draiman yang menggelora menyatu dengan desisan udara dari jendela bus yang setengah terbuka. Jack earphone yang terhubung ke ponsel cowok hoodie itu hangat oleh kulitnya, dan Aira bisa melihat dari sudut matanya bagaimana jari-jarinya yang ramping mengetuk-ngetuk pola kompleks di paha jeans hitam – sinkron sempurna dengan ketukan drum.
Ketika lagu berganti ke ‘Breathe Me’ oleh Sia, sesuatu yang aneh terjadi. Aira tiba-tiba menarik nafas dalam tepat di saat yang sama dengan cowok itu, seperti refleks yang terkordinasi. Udara di antara mereka terasa elektrik, bermuatan puluhan lagu yang saling mereka lempar selama seminggu terakhir. Playlist ‘First Contact’ ini ternyata berisi semua lagu-lagu yang pernah Aira kirimkan, tapi diaransemen ulang dalam versi acoustic atau cover yang lebih gelap.
‘Ini...’ Aira membuka mulut untuk pertama kalinya, suaranya serak oleh rasa gugup yang menggelitik. ‘Kamu menyimpan semua playlistku?’
Cowok itu hanya mengangguk pelan, hoodie-nya bergeser sehingga sedikit lebih banyak wajahnya terlihat – hidung mancung, bibir tipis yang sekarang tersungging senyum samar, dan dagu dengan lesung kecil yang Aira tidak pernah lihat sebelumnya. Tangannya bergerak mengambil ponselnya, membuka aplikasi pemutar musik. Aira melihat folder bernama ‘Bus 3rd Row’ dengan semua playlist yang pernah dia kirim, diurutkan dengan tanggal dan jam.
‘Kamu juga,’ bisiknya sambil menunjuk layar ponsel Aira yang masih terbuka di halaman Spotify. Di sana tersimpan semua playlist ‘Orion’sStrings’ dalam satu folder khusus bertanda bintang.
Ketika lagu ‘Nuvole Bianche’ oleh Ludovico Einaudi mulai mengalir, sesuatu yang magis terjadi. Aira merasakan setitik air mata hangat di pipinya – tapi anehnya, ketika dia menoleh, cowok itu juga sedang menyeka sudut matanya dengan lengan jaket. Piano yang melankolis itu seperti menusuk mereka berdua di tempat yang sama persis, menyentuh memori yang bahkan belum pernah mereka bagi.
‘Bagaimana kamu tahu?’ Aira akhirnya berani bertanya setelah lima lagu berlalu, suaranya lirih seperti takut memecah kesempurnaan momen. ‘Tentang ayahku...tentang...’ Dia tidak bisa melanjutkan. Lagu ‘Fix You’ oleh Coldplay yang diputar berikutnya adalah lagu yang sama persis yang selalu diputar ibunya setelah pemakaman.
Cowok itu mengeluarkan ponsel lagi, membuka screenshot dari forum astronomi setahun lalu – komentar Aira tentang bagaimana dia melihat rasi Orion sebagai tanda dari ayahnya yang telah tiada. Tangannya yang bertato not balok gemetar ringan saat mengetik: ‘Musik adalah teleskop kita untuk melihat perasaan orang lain.’
Sepanjang perjalanan, mereka menemukan lebih banyak kesamaan mengagumkan. Ketika ‘Hallelujah’ versi Jeff Buckley muncul, keduanya spontan bergumam ‘It’s not a cry you can hear at night’ di saat yang sama. Saat ‘Bohemian Rhapsody’ diputar, mereka berbagi tawa kecil ketika menyadari keduanya selalu mengangkat kaki di bagian ‘thunderbolt and lightning’. Bahkan cara mereka menggoyang-goyangkan kepala saat mendengar riff gitar ‘Sweet Child O’ Mine’ identik.
Yang paling mengejutkan adalah ketika playlist beralih ke lagu ciptaan sendiri – melodi piano sederhana bertajuk ‘33°13’N’ yang ternyata adalah koordinat lokasi observatorium kecil tempat Aira biasa menghabiskan malam. Cowok itu mengetik penjelasan singkat: ‘Aku ada di sana tiap Kamis malam, di bangku paling ujung.’ Aira terpana. Selama ini, mereka mungkin sudah sering duduk beberapa meter saja tanpa saling menyadari.
Sepasang earphone itu menjadi jembatan antara dua dunia yang ternyata tidak pernah benar-benar asing. Setiap lagu seperti lembaran diary yang saling melengkapi, setiap lirik adalah kalimat dalam percakapan tak terbaca yang akhirnya menemukan suaranya. Ketika bus sampai di halte Aira, jack earphone tercabut dengan suara klik kecil yang terdengar seperti pintu yang terbuka – bukan tertutup.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.