Surat untuk Hari Terakhir
Chapter 1: Surat Pertama
Pena meluncur pelan di atas kertas bergaris, meninggalkan jejak tinta biru yang berkelok-kelok membentuk kata. ‘Untuk diriku di masa depan,’ Nara menuliskan kalimat pembuka dengan huruf kapital yang sedikit gemetar. Lampu meja menyoroti buku diary kulit cokelat yang masih perawan halamannya, baunya anyir seperti kenangan yang belum terukir.
Jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja kayu yang dingin. Suara hujan di luar jendela menyusup melalui celah-celah gorden, menemani detak jam dinding yang terasa semakin keras di telinganya. “Kenapa aku melakukan ini?” bisiknya pada bayangan sendiri yang terpantul di kaca jendela. Tak ada jawaban selakan dengusan angin malam yang membelai rambutnya.
Dia menyentuh permukaan kertas yang masih mulus, merasakan butiran halusnya yang menempel di ujung jari. Pikirannya melayang ke tawa Reno di kafe kemarin sore, cara mata kekasihnya itu menyipit saat tertawa, lalu ke pertengkaran pagi tadi dengan ibu tentang masa depannya yang ‘tidak jelas’. Setiap napas yang dihirupnya terasa berat seperti meneguk udara basi.
‘Aku tidak tahu apa yang kucari,’ tulisnya lagi, lekukan huruf ‘t’ terlalu dalam sampai hampir menembus kertas. ‘Tapi mungkin kau yang di sana, bisa memberitahuku.’ Sebuah tetes air jatuh mengaburkan kata terakhir. Baru Nara menyadari pipinya basah.
Di sudut kamar yang lembap, boneka beruang pemberikan Reno menyaksikan diam. Kertas-kertas coretannya tentang puisi cinta yang gagal tersusun, tumpukan novel-novel dystopia, dan jam weker tua jadi saksi bisu pergulatan batinnya. Hujan semakin deras memecah kesunyian ketika dia menutup buku diary itu dengan gemetar dan menyimpannya di bawah bantal, seperti menyegel rahasia yang terlalu berharga untuk dibagi ke siapa pun.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.