Di Antara Dua Hati
Chapter 3: Bayang-Bayang Keraguan
Setelah pertemuan rahasia di taman sekolah, hubungan antara Rara dan Aldi semakin rumit. Mereka berdua tahu bahwa perasaan mereka tidak bisa diabaikan, tapi di sisi lain, mereka juga sadar bahwa Siska pantas mendapatkan kejujuran. Namun, kejujuran itu justru menjadi hal yang paling sulit untuk diungkapkan.
Siska, yang semakin curiga dengan perubahan sikap Aldi, memutuskan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Suatu sore, ia mengajak Aldi berbicara serius di kafe favorit mereka.
"Aldi, aku merasa ada yang tidak beres dengan kita belakangan ini," kata Siska dengan suara lembut tapi tegas. "Kamu sering melamun, dan kayaknya kamu nggak nyaman sama aku. Apa ada yang mau kamu ceritain?"
Aldi merasa dadanya sesak. Ia tahu Siska pantas mendapatkan kejujuran, tapi ia tidak bisa mengungkapkan perasaannya terhadap Rara. "Siska, aku cuma lagi banyak pikiran aja. Banyak hal yang harus aku hadapi, dan aku nggak mau bikin kamu khawatir."
Siska tidak percaya begitu saja. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Aldi. "Aldi, kalau kamu nggak jujur sama aku, hubungan kita nggak akan bisa jalan. Aku butuh kepercayaan itu."
Aldi menghela napas. Ia tahu Siska benar, tapi ia tidak bisa mengungkapkan kebenaran yang sebenarnya. "Aku ngerti, Siska. Aku cuma butuh waktu untuk sendiri aja."
Siska merasa hatinya hancur. Ia tahu ada sesuatu yang tidak beres, tapi ia tidak bisa memaksa Aldi untuk berbicara. "Oke, Aldi. Tapi ingat, aku selalu ada buat kamu."
Mereka duduk dalam keheningan, masing-masing tenggelam dalam pikiran mereka sendiri. Siska merasa ada jarak yang semakin lebar antara mereka, dan itu membuatnya tidak nyaman.
Sementara itu, Rara mencoba untuk fokus pada kegiatan sekolah dan klub literasi. Ia tahu bahwa perasaannya terhadap Aldi hanya akan membuat segalanya semakin rumit, tapi ia tidak bisa menahan hatinya. Suatu sore, setelah pertemuan klub literasi, Dito mendekati Rara.
"Rara, kamu kenapa sih belakangan ini? Kayaknya kamu sering melamun," tanya Dito dengan nada khawatir.
Rara tersenyum kecut. "Ah, nggak kok. Cuma lagi banyak pikiran aja."
Dito tidak mengejar lebih jauh. Ia tahu Rara tidak nyaman membicarakan hal itu. "Kalau kamu butuh teman cerita, aku selalu ada, ya?"
Rara merasa hangat oleh perhatian Dito. "Terima kasih, Dito. Aku nggak akan bisa tanpa kamu."
Mereka tertawa kecil, dan untuk sesaat, Rara merasa lebih ringan.
Namun, malam itu, saat Rara pulang ke rumah, ia menerima pesan dari Aldi. "Rara, kita perlu bicara. Bisa ketemu besok sepulang sekolah?"
Jantung Rara berdegup kencang. Ia tidak tahu apa yang akan dibicarakan Aldi, tapi ia merasa ini penting. "Oke, aku tunggu."
Keesokan harinya, setelah sekolah, Rara dan Aldi bertemu di taman sekolah. Suasana terasa tegang, dan Rara tidak bisa menebak apa yang akan terjadi.
"Aldi, ada apa?" tanya Rara dengan suara gemetar.
Aldi menarik napas dalam-dalam. "Rara, aku nggak bisa bohong sama Siska. Aku merasa bersalah karena nggak jujur sama dia."
Rara merasa dadanya sesak. "Aku ngerti, Aldi. Aku nggak mau bikin hubungan kalian rusak."
Aldi mengangguk, tapi matanya terlihat bingung. "Tapi aku juga nggak bisa bohong sama perasaanku. Aku nggak tahu harus gimana, Rara."
Rara merasa air matanya hampir menetes. "Aldi, kita nggak bisa egois. Siska pantas mendapatkan yang terbaik."
Aldi diam sejenak, lalu tiba-tiba ia memegang tangan Rara. "Tapi aku nggak mau kehilangan kamu, Rara."
Rara merasa hatinya tercabik-cabik. Ia tahu ini salah, tapi ia tidak bisa menolak perasaan yang sudah lama ia pendam. "Aku juga nggak mau kehilangan kamu, Aldi."
Mereka duduk dalam keheningan, masing-masing tenggelam dalam kebingungan mereka sendiri. Rara tahu ini adalah awal dari sesuatu yang lebih rumit, tapi ia tidak bisa menahan perasaannya. Sementara Aldi, di sisi lain, mulai merasakan konflik yang semakin dalam.
Ini adalah awal dari gelombang kebingungan yang akan menguji hubungan mereka bertiga.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.