Ketika Janji Menjadi sebuah Rahasia
Chapter 1: Janji yang Mulai Pudar
Matahari sore menyelinap melalui jendela apartemen lantai 21, menyapu wajah Nara yang tengah menatap kosong ke langit Jakarta yang memerah. Di tangannya, jam tangan emas pemberian Arkana berdetak pelahan, setiap detiknya seperti mengikis kesabaran. "Aku janji pulang jam 7, sayang," bisik suaminya tadi pagi sebelum mencium keningnya—janji yang sudah kali ketiga dilanggar minggu ini.
Dering teleponnya memecah kesunyian. "Masih di kantor, Nar. Client ini benar-benar ngeselin," suara Arkana terdengar parau di seberang sana, diiringi gemerincing gelas dan tawa perempuan yang tiba-tiba tercekik. Nara mengetuk jari-jarinya yang dingin di marmer meja makan. "Kamu janji..." ucapnya lirih, tapi sambungan sudah terputus.
Kilas balik delapan tahun lalu menyergapnya—Raka berdiri di bawah hujan gerimis kampus dengan tangan penuh buku arsitektur, matanya berbinar ketika melihatnya. "Nar, aku..." tapi kalimat itu tak pernah terselesaikan sebelum Arkana masuk ke hidupnya seperti badai. Karisma pria pengacara itu menyapu semua keraguan, janji setia di pelaminan terdengar demikian indah di antara gemerincing rantai emas dan sorak tamu.
Sekarang, aroma kopi dingin di termosnya menusuk hidung. Foto pernikahan di dinding tampak ironis dengan wajah-wajah yang terlalu bahagia. Di meja kerja Arkana, tumpukan berkas kriminal ‘kasus korupsi PT. Bumi Sentosa’ berserakan—proyek yang membuatnya absen tiga akhir pekan berturut-turut.
Pukul 23.48, derit pintu apartemen akhirnya terdengar. Arkana terhuyung masuk dengan dasi longgar dan bau alkohol menyengat. "Maafkan aku," desisnya sambil mencoba merangkul Nara yang kaku. Di balik kerah kemejanya, ada jejak lipstik merah menyala yang tidak pernah ia pakai. Nara menatapnya dengan mata berkaca-kaca, nafasnya tersekat melihat jam dinding yang terus bergerak maju, seperti hubungan mereka yang bergerak mundur tanpa bisa dihentikan.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.